Sagarmatha The Movie (2013/Indonesia)


Ada sedikit kejutan untuk review film kali ini, kebetulan saya mendapat undangan untuk menghadiri screening film Indonesia terbaru yang berjudul Sagarmatha, tapi karena satu dan lain hal, saya tidak bisa menghadiri screening tersebut, maka sebagai gantinya, teman saya yang sudah sering bekerjasama dalam pembuatan film-film pendek yang kita hasilkan beberapa tahun kebelakang ini, M. Myrdal Muda setuju untuk menghadiri screening film Sagarmatha tersebut, dan yang lebih kerennya, Myrdal setuju untuk menuliskan review tentang film yang katanya lebih ‘mendingan’ daripada film 5 cm yang ‘tanggung’ itu. Ya, Sagarmatha juga menceritakan tentang perjalanan seseorang untuk mendaki sebuah gunung. So, apa menariknya Sagarmatha ini? Dan bagi anda yang sering membaca review film saya yang biasanya sangat jarang menyinggung soal teknis film, bersiap-siaplah, karena Myrdal akan ‘mempreteli’ film ini secara keseluruhan, luar dan dalam, atas sampai bawah, ha-ha, so here’s the review, enjoy!

The brutal truth

The brutal truth

Sagarmatha – Menapak “Kepala Langit” Bersama Sahabat

Jika bagi pemain sepakbola adalah mengangkat trofi Piala Dunia, bagi pembuat film Hollywood adalah berada di mimbar Academy Award sambil memegang piala Oscar, maka bagi pecinta alam, berada di puncak tertinggi dunia merupakan impian tertingginya. Film Sagarmatha karya Emil Heradi merupakan satu di antara sedikit film perjalanan yang benar-benar berjalan. Kebanyakan Road Movie menceritakan perjalanan dengan mobil seperti “La Grand Voyage” atau di atas motor seperti “The Motorcycle Diaries“. Sagarmatha menyajikan kemasan Road Movie yang memuat berbagai pengalaman bertualang mulai dari kendaraan umum, tumpangan, hingga berjalan kaki.

Film ini menceritakan persahabatan dua wanita, Shila (Nadine Chandrawinata) dan Kirana (Ranggani Puspandya) yang melakukan perjalanan untuk mewujudkan impian mereka menapaki puncak dunia atau Sagarmatha yang berarti kepala langit. Perjalanan keduanya menjadi menarik karena hal-hal yang mereka temui sepanjang perjalanan dari mulai India hingga Nepal sebelum akhirnya mulai mendaki gunung Himalaya. Shila dan Kirana yang merupakan sahabat sejak kuliah memang senang mendaki gunung. Di samping itu, Shila memiliki bakat dalam menulis cerpen dan Kirana pun mahir dalam fotografi. Hal ini membuat mereka memutuskan untuk membuat buku yang berisi cerpen karangan Shila selama perjalanan mereka serta hasil jepretan Kirana sebagai gambar ilustrasinya.

Namun, di tengah perjalanan semangat mereka mulai mengendur. Shila mulai tak yakin bahwa cerpen yang dia tulis bagus untuk dibukukan. Ini bukan satu-satunya yang membuat Kirana kesal. Shila mengaku bahwa sebelum berangkat, dia dilamar oleh kekasihnya. Hal yang membuat Kirana kecewa karena dia belum memiliki tujuan hidup yang jelas di usianya yang telah menapaki 28 tahun.

Di tengah perjalanan menuju puncak Himalaya, mental Shila mengendur dan dia memutuskan untuk turun kembali ke camp. Dalam kesedihannya, Shila mengingat kembali masa lalu bersama Kirana. Ketika mereka bersama mendaki Gunung Merapi dan berikrar bahwa suatu hari nanti mereka akan mendaki Himalaya hingga ke puncak. Tapi hal tersebut tak mudah karena memori mengenai Gunung Merapi bagi Shila merupakan sebuah memori tragis.

Sagarmatha memiliki daya tarik tersendiri karena mengambil setting tempat yang unik, India dan Nepal. Menghadirkan kesan yang membawa penonton ke dunia yang baru, namun tetap familiar karena pada dasarnya tempat-tempat tersebut tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Selain itu, kreasi visual Emil Heradi ketika pendakian Gunung Himalaya sangat menyihir mata penonton. Penggunaan teknik timelapse dan hyperlapse menyajikan spectacle tersendiri. Suasana yang kental terasa ketika menonton film post-modern documentary seperti Powaqqatsi. Di sisi lain, film ini juga membawa ingatan tentang menonton film-film dokumenter mengenai puncak Everest seperti “The Wildest Dream” atau “The Man Who Skied Down The Everest”. Tidak salah jika film ini dikatakan percampuran antara fiksi dan dokumenter. Tata suara disajikan dengan sangat realistis namun mendukung pada naratif. Suara dialog yang menggema ketika Shila dan Kirana berbicara di atas Gunung Himalaya, hingga atmosfer badai angin di luar tenda ketika mereka berdua sedang bercerita di dalam. Di antara dialog yang natural, tersisip juga celotehan-celotehan yang bernuansa keseharian. Dapat dimengerti bahwa beberapa tokoh figuran dalam film ini berkesan “aktor dadakan” yang ternyata memberikan sentuhan yang bagus dalam cerita. Seperti tokoh agen perjalanan, maupun penjual rokok ganja di pinggir jalan.

Dari sisi naratif, film ini terasa seperti menonton film pendek berdurasi panjang. Mungkin karena tidak terdapat sub-plot yang signifikan disamping plot utama yang diceritakan. Yang menarik adalah adegan ketika Shila mendesain tattoo-nya sendiri berdasarkan pada sebuah kalung. Di tengah film, dijelaskan bahwa Shila mendapatkan tattoo itu saat melakukan perjalanannya. Namun, kemudian dijelaskan pada scene flashback bahwa kalung yang dia miliki adalah pemberian dari Kirana ketika mereka masih di Indonesia. Hal yang membingungkan adalah ketika Kirana memberikan kalung tersebut, tattoo yang seharusnya baru didapatkan Shila saat di Nepal, ternyata sudah ada di tengkuknya. Sekilas terlihat seperti sebuah blooper. Tapi dari cara sang sutradara mengambil shot tersebut, sepertinya Emil memiliki maksud tertentu dibalik plot hole yang tidak wajar itu.

Disamping itu, seringkali terdapat inkonsistensi dalam hal style. Pada beberapa scene, gambar dapat memiliki kesan “beauty”. Terdapat pemecahan shot yang optimal dan dinamis. Namun pada scene lain, terlihat kasar dan tanpa persiapan. Beberapa shot lain terasa monoton dan sekedarnya.

Dari segi akting pun serupa. Kadang akting Nadine dan Ranggani dapat terlihat begitu mengalir. Namun, di lain adegan terlihat seperti kaku. Beberapa shot terasa seperti memiliki kesan dokumenter yang mendekati realitas. Namun, pada klimaks cerita terasa dramatisasi yang berlebihan.

Bagaimanapun juga, inilah semangat Road Movie yang mana bersama alur yang diceritakan, tim produksi film terus bergerak. Tidak seperti yang kita kenal dengan Hollywood Studio System yang segala sesuatunya terencana dengan rinci. Road Movie merupakan genre film yang pada umumnya memberikan perspektif baru kepada tokoh-tokohnya sepanjang perjalanan. Dengan demikian, mungkin saja terjadi perubahan perspektif bagi filmmaker-nya. Karena Road Movie merupakan kotak kejutan, bahkan bagi pembuatnya sendiri.

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s