Le promeneur d’oiseau/The Nightingale (2013/France)


Into the village

Into the village

Bulan Desember berjalan dengan begitu lambat, tapi tak masalah, ditengah kesibukan pekerjaan, akhirnya saya menyempatkan untuk menyambangi Festival Sinema Prancis yang beberapa hari lalu baru saja berakhir di Bandung. Seperti acara tahunan wajib untuk pecinta film-film non-Hollywood lainnya, Festival Sinema Prancis memang sudah menjadi agenda tersendiri bagi saya, apalagi tahun ini diputar film terbarunya Michel Gondry, sutradara dengan sejuta kisah surrealnya yang mungkin tidak akan bisa pernah anda cerna. Tapi sebelum melaju ke film terbaru sutradara penuh fantasi itu, tanpa sengaja saya berkesempatan menonton satu film lain yang diputar di Festival Sinema Prancis yang diadakan di salah satu bioskop XXI paling enak di Bandung. Film tersebut berjudul Le promeneur d’oiseau atau The Nightingale, menariknya adalah, film ini memang disutradarai orang Prancis, yaitu Philippe Muyl, tapi filmnya sendiri adalah film berbahasa Cina yang dibintangi oleh aktor-aktor Cina itu sendiri. Well, penasaran seperti apa jadinya jika film mandarin disutradarai orang Prancis? The Nightingale mungkin jawabannya.

Jujur saja, film ini dibuka dengan visual yang cantik, mungkin agar seirama dengan judulnya yang berarti burung bulbul yang cantik, ha-ha. But anyway, jangan salah, ceritanya juga cantik, mengisahkan tentang seorang gadis cilik bernama Ren Xing (Xin Yi Yang) yang tinggal dengan kedua orang tuanya yang super sibuk, ditengah kurangnya perhatian intens kedua orang tuanya, Ren Xing tenggelam dalam kesendirian dan kesibukannya memainkan gadget. Suatu saat, kedua orang tuanya harus melakukan dinas luar kota, tapi ibu Ren Xing khawatir karena tidak ada pembantu yang menjaga Ren Xing di rumah, maka ia menitipkan Ren Xing pada kakeknya, Zu Zhi Gen (Baotian Li), yang sudah lama putus kontak dengan ayah Ren Xing karena masalah di masa lalu. Berbeda jauh dengan kehidupan serba modern yang dimiliki Ren Xing dan keluarga, Zu Zhi Gen mengajak Ren Xing untuk mengunjungi desanya yang jauh dari hiruk pikuk kota yang serba canggih, ditemani burung bulbul peliharaan Zu Zhi Gen selama 18 tahun, Ren Xing mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru ketika bertemu dengan orang-orang sederhana selama perjalanannya menuju desa almarhumah neneknya.

Sedikit nuansa road movie dan drama coming-of-age menghiasi film berdurasi kurang lebih dua jam ini. Walau mempunyai alur yang lambat dan bisa membuat sebagian penonton ketiduran di tengah-tengah mendengarkan percakapan antara sang kakek dan cucunya yang manja itu, tapi The Nightingale tetap menyuguhkan sajian sederhana tentang drama keluarga yang hangat, dengan burung bulbul sebagai teman dan simbol perjalanan mereka sekaligus lambang kebebasan yang mengibaratkan dirinya sebagai burung yang akhirnya bisa lepas dari ‘kandangnya’ yang dingin. Belum lagi lanskap-lanskap indah yang berhasil ditangkap oleh sang sineas makin membuat saya ingin pulang ke kampung halaman yang asri dan jauh dari yang namanya kesibukan, entah itu kesibukan karena pekerjaan atau kesibukan apapun itu. Menariknya, ajang “into the wild” ala Ren Xing ini menjadi sebuah ajang pembelajaran juga bagi kedua orang tuanya yang ternyata memang sudah tidak seharmonis dulu lagi. Ya perjalanan yang dilakukan Ren Xing dan kakeknya yang penyabar dan penyayang tersebut secara tak langsung memicu sebuah ikatan emosional bagi kedua orang tuanya yang berada jauh dari Ren Xing.

So, maybe The Nightingale bukan film untuk semua orang, apalagi bagi anda yang membenci tipikal film-film slow burn seperti ini, alurnya yang lambat mungkin akan mengoyak-oyak hati anda. Tapi untungnya, saya tidak keberatan dengan jalan cerita yang disajikan apa adanya di film yang mungkin hanya menggunakan dialog bahasa Prancis tidak lebih dari satu kalimat ini. Perjalanan yang dialami Ren Xing dan kakeknya seperti sebuah perjalanan spiritual, mengenalkan Ren Xing pada dunia diluar ‘kandangnya’ yang ternyata masih menyimpan banyak cerita menarik dan jenaka. Cerita yang cantik dan visual yang cantik sudah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa film ini telah melakukan tugasnya dengan baik. Well done.

Rating: 3/5

2 thoughts on “Le promeneur d’oiseau/The Nightingale (2013/France)

  1. saya juga pecinta film perancis, lebih suka sama film yang bergenre coming of age dan alur ceritanya slow burn, mungkin bisa rekomendasi film perancis yang bagus?

    Like

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s