L’écume des jours/Mood Indigo (2013/France)


Love till death do us apart

Love till death do us apart

Apa jadinya kalau karya penulis surreal diadaptasi oleh sutradara film-film bergaya surreal? Jawaban yang paling benar mungkin adalah film terbaru Michel Gondry yang berjudul L’écume des jours alias Mood Indigo. Ya, Mood Indigo menjadi film terakhir yang saya tonton di Festival Sinema Prancis beberapa hari kebelakang. Bagi anda yang belum familiar dengan karya-karya Michel Gondry, saya sangat menyarankan anda untuk menjauhi film ini, apalagi Mood Indigo memang adaptasi langsung dari buku novel author Prancis yang lahir tahun 1920, Boris Vian, yang terkenal dengan gaya ‘out of the box’-nya dalam menuturkan cerita. Ceritanya sendiri adalah tentang pria yang menikahi wanita yang tak lama kemudian si wanita jatuh sakit dan hanya bisa diobati jika ia dikelilingi oleh bunga.

Mulai terdengar tidak logis dan makin surreal? Selamat! Anda sudah sampai di dunia Michel Gondry. Pria tersebut bernama Colin (Romain Duris), ia hidup sendiri dengan pelayannya yang setia, Nicolas (Omar Sy). Tapi Colin tidak sepenuhnya sendirian, ia mempunyai seorang teman penggemar berat karya sastra Partre, bernama Chick (Gad Elmaleh). Mendapati cerita Chick yang baru saja menjalin hubungan dengan seorang gadis bernama Alise (Aïssa Maïga), Colin jadi cemburu karena dirinya masih jomblo, hingga akhirnya ia dipertemukan dengan seorang gadis cantik bernama Chloé (Audrey Tautou) di suatu pesta yang diinisiasi oleh kekasih Nicolas, Isis (Charlotte Le Bon). Terdengar seperti film-film drama romantis pada umumnya bukan? Jangan salah, bukan Gondry namanya kalau anda masih merasa seperti menonton film-film romantis adaptasi buku Nicholas Sparks.

Mood Indigo dibuka dengan visual-visual aneh dan ngejelimet seperti yang dilakukan Gondry di film-filmnya terdahulu. Gambaran paling dekat dengan film ini adalah film Science of Sleep yang dipenuhi banyak practical effect yang menggunakan teknik stop motion. Maka bayangkan saja skala keabsurdan Gondry di Science of Sleep ditingkatkan tiga kali lipatnya, jawabannya adalah Mood Indigo ini. Perlu saya ingatkan lagi, bahwa Colin tidak hanya tinggal dengan pelayannya yang setia, tapi juga dengan tikus kecil yang berwujud manusia dan bel pintu yang bergerak kesana kemari ketika sudah dipencet. Oiya, jangan lupakan salaman memutar ala Colin dan Chick dan tentu saja pianocktail, dimana anda bisa meracik minuman cocktail berdasarkan nada-nada yang anda mainkan di piano milik Colin.

Masih banyak rentetan peristiwa ‘alternate universe’ ala Gondry yang mungkin bisa membuat mata anda berkaca-kaca, tapi patut diketahui, Gondry selalu menyajikan dua sisi dalam setiap filmnya, yaitu sisi menyenangkan dan tentunya—the brutal truth—sisi menyedihkan. Seperti yang saya bilang di awal, Mood Indigo ini memang mengingatkan saya pada Science of Sleep. Perjalanan cinta seorang pria yang telah menjadi suami harus diuji ketika istrinya menderita penyakit aneh (yang tidak kalah surrealnya), yang hanya bisa diobati oleh bunga-bunga yang mengelilinginya. Seiring cerita, kehidupan Colin yang penuh warna dan sepertinya akan happily ever after bersama Chloé perlahan-lahan berubah menjadi realita pahit, dimana hidupnya yang biasa terbangun karena bau makanan lezat yang dimasak Nicolas dan kebiasaan bermain ice skating bersama teman-temannya  harus berubah menjadi rutinitasnya kesana kemari mencari uang tambahan dengan pekerjaan macam kuli (yang tidak kalah surrealnya) demi mengobati Chloé yang tidak bisa diobati sembarangan.

The bittersweet of life, selalu menjadi ciri khas kedua dalam film-film sutradara yang turut kebagian peran kecil di film ini juga, selalu ada senang dan selalu ada sedih, bahkan di film paling mainstream Gondry semacam Be Kind Rewind (kecuali The Green Hornet mungkin) pun kita akan tetap disuguhi konklusi yang mungkin akan membuat penontonnya meneteskan air mata. Keapikan Gondry membuat film-film seperti ini nampaknya makin klop ketika ia mengolah novel Boris Vian yang ternyata sejalan dengan visinya. Setia pada sang author, Gondry tidak melewatkan kegemaran Boris Vian yang sangat menyukai musik jazz, bahkan salah satu karya Duke Ellington yang merupakan favorit Boris Vian ikut bersenandung mengiringi dansa yang membuat kaki para pasangan yang berdansa menjadi panjang dan elastis seperti Mr. Fantastic di Fantastic Four. Dari menit pertama sampai setidaknya menjelang akhir kita sebagai penonton akan tahu bagaimana rasanya hidup, tapi menuju ending, Gondry menyisihkan semuanya, ditandai dengan gambaran karakternya yang makin murung dan suram bahkan visualnya pun ikut muram sampai closing credit berputar.

Well, inilah Gondry, dan mungkin inilah karya tersurrealnya yang pernah saya tonton (di bioskop). Sempat gundah gulana karena awalnya film ini diputar tanpa subtitle (what the heck!), tetap, Mood Indigo berhasil memainkan mood saya naik turun, senang sedih dan geram. Didukung oleh aktor-aktor mumpuni yang diantaranya mungkin sudah termasuk senior seperti Audrey Tatou yang terakhir saya lihat penampilannya di film The Da Vinci Code, Mood Indigo memberikan sejuta pengalaman unik dan aneh untuk melihat kisah percintaan yang dilihat dari kacamata seorang Michel Gondry yang nampaknya sudah berkali-kali membaca novel Boris Vian. So, suka atau tidak, saya masih bisa menikmati film berdurasi kurang dari dua jam ini, angkat topi untuk visual yang didesain cantik oleh Stéphane Rosenbaum di film ini, semua yang saya tonton di layar lebar nampak nyata, bahkan menu belut goreng Nicolas yang bisa meliuk-liuk dan berubah formasinya pun nampak seperti bisa dimakan betulan, ha-ha. Overall, this is Gondry, and hope you enjoy it.

Rating: 3/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s