Out of the Furnace (2013/US)


Down in it

Down in it

Satu peringatan bagi anda filmmaker diluaran sana, jika anda ingin membuat film dan menggunakan salah satu lagu milik Pearl Jam di film anda, film tersebut harus damn-fucking perfect! Salah satu contoh adalah ketika Into the Wild rilis, walau bukan Pearl Jam, tapi ‘separuh’ dari band tersebut, Eddie Vedder berhasil membuat film Into the Wild makin ‘menusuk’ hati. Ya, walau tidak sempurna secara keseluruhan, Out of the Furnace, film terbaru dari sutradara yang masih terbilang anyar menjadi seseorang yang duduk di belakang kamera—Scott Cooper—tetap menjadi sebuah sajian drama kelam yang feelingnya makin terasa ketika lagu Pearl Jam berkumandang di opening dan endingnya.

Jangan anggap remeh Scott Cooper, Crazy Heart-nya tahun 2009 cukup menggebrak ajang Academy Awards, selalu hadir dengan cerita minimalis yang menyuguhkan pemandangan paling realistis negara paman sam, sutradara yang mengawali karirnya sebagai aktor serial televisi ini tetap setia dengan tone ala Crazy Heart di film terbarunya tersebut. Out of the Furnace merupakan salah satu film drama kelam yang mempunyai topik balas dendam. Topik yang memang sudah pasaran bukan? Tapi disitulah kepiawaian Scott Cooper diuji, apakah filmnya sesuai dengan ekspektasi anda semua?

Setidaknya Out of the Furnace sesuai dengan ekspektasi saya, buang jauh-jauh pikiran anda kalau menganggap film ini adalah film action gara-gara melihat posternya yang bergambar Christian Bale memegang senapan. Out of the Furnace sedikitnya menceritakan hubungan kakak-adik bernama Russell (Christian Bale) dan Rodney Baze (Casey Affleck) di sebuah kota kecil yang hidup dari pabrik-pabrik besi tua di pelosok Amerika sana. Dengan keadaan ekonomi yang makin melilit saat itu, Russell tertimpa musibah yang mengakibatkan dirinya dibui, tidak lama kemudian ayahnya meninggal, dan pacarnya, Lena (Zoe Saldana) pergi meninggalkannya. Kini hanya ada Russell dan Rodney yang masih saja bermasalah dengan hutang-hutangnya.

Ditengah kemelut serba sulit tersebut, Rodney bersama John Petty (Willem Dafoe), yang sudah lama terlibat dalam dunia tinju tangan kosong ilegal mencoba peruntungan mereka untuk melawan seorang petarung asuhan seorang preman gunung bernama Harlan (Woody Harrelson) yang diperkenalkan dengan sangat keji ketika opening film ini dimulai. Lalu ceritanya bisa anda tebak sendiri, Rodney mengalami masalah dengan Harlan, dan Russell pun mau tak mau harus menyelamatkan satu-satunya keluarga yang ia miliki dari seorang preman bengis yang tak kenal ampun tersebut.

Dimana letak balas dendamnya? Nanti anda akan tahu sendiri ketika menonton film berdurasi kurang lebih dua jam ini. Tapi harap waspada, jika anda bukan penggemar film dengan alur cerita yang lambat, siap-siap bosan menonton film ini dari awal sampai sepertiga akhir. Karena seperti yang saya bilang di awal, Scott Cooper lebih menonjolkan hubungan keluarga yang intens antara Russell, Rodney dan orang-orang di sekeliling mereka, sambil menyindir aspek-aspek kehidupan yang mungkin sangat jarang disentuh sineas lain di film-film semodel ini.

Sebut saja keadaan hidup mereka yang jauh dari yang namanya berkecukupan ala film-film drama glamor Hollywood lain. Out of the Furnace berhasil menyajikan sisi lain dari Amerika yang katanya negara dimana anda bisa merasakan apa itu namanya ‘living the American dream’. Scott Cooper sukses menyuguhkan potret kelam Amerika dari sisi keluarga sederhana yang salah satunya adalah seorang tentara yang pernah bertugas di Irak. So pasti sisi traumatis dan ekonomi pun menjadi tanda tanya besar di sepanjang film ini berjalan, tidak aneh Rodney melakukan apapun demi hidup karena ia sendiri tidak pernah merasakan apa itu rasanya menjadi seseorang yang mengabdi pada negara.

Dari semua setting hingga suasana yang mungkin bagi sebagian orang dianggap keadaan paling realistis Amerika, Out of the Furnace makin mantap ketika didukung penampilan duo aktornya yang ciamik. Penampilan Christian Bale makin matang dan makin teruji, disandingkan dengan adik sang pemeran batman selanjutnya, chemistry Christian Bale dan Casey Affleck terasa mengalir walau tidak digali lebih dalam dari sisi skripnya. Kemudian masih ada Woody Harrelson yang luar biasa beringas, menjadi karakter antagonis yang mungkin paling meyakinkan dan membuat saya ingin meninju wajahnya, perpaduan karakter baik dan karakter jahat ini menyatu dengan sempurna menjadi sajian yang menurut saya tetap bisa dinikmati dan watchable sampai akhir.

Mungkin Out of the Furnace bukan pilihan semua orang, selain alur ceritanya yang lambat dan temanya yang pasaran, saya tetap menikmati film ini, saya tetap menikmati sajian visual dan tonenya yang kelam, saya salut dengan sinematografinya yang sangat ‘oldies’ sekali, dan entah kenapa saya suka sekali dengan endingnya yang ‘haunting’, sunyi, senyap dan akhirnya merinding ketika lagu “Release” milik Pearl Jam kembali berkumandang di closing credit. Ya, bukan kesukaan semua orang, tapi Out of the Furnace mungkin salah satu film kesukaan saya bulan ini. Well, hope you’ll like it too. Enjoy!

Rating: 3.75/5

Perfect favorite scene: Scene dimana Russell membidik Harlan dengan senapannya, fade out, Russell muncul sejenak, fade out lagi, kemudian lagu “Release Me” berkumandang. Fucking goosebumps!

2 thoughts on “Out of the Furnace (2013/US)

  1. Pingback: American Hustle (2013/US) | zerosumo

  2. Pingback: My 15 Favorite Movies of 2014 (That I’ve Seen in Movie Theater) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s