Thrill-A-Thon Short Review


What a waste!

What a waste!

Jadi ceritanya hari Sabtu kemarin saya ikutan nonton marathon film-film menyeramkan di Blitzmegaplex, nama acaranya Thrill-A-Thon, ada empat film yang diputar tanpa jeda, dimulai dari Haunter, The Returned, Magic Magic dan diakhiri dengan omnibus horor Thailand, 3 AM Part 2. Acara dimulai dari jam setengah delapan malam dan berakhir di jam setengah tiga pagi. Masalahnya adalah, Thrill-A-Thon ini hampir jadi acara Sleep-A-Thon, karena kalau boleh dibilang, film-film yang mereka putar disini tidak begitu thrilling, bahkan harus diakhiri dengan film omnibus horor Thailand yang gagal total membuat penonton ketakutan tapi berhasil membuat sebagian penonton menguap lebar-lebar. Karena ada empat film yang saya tonton dalam waktu kurang lebih enam jam, jadi saya akan review semuanya dengan singkat di satu postingan ini. So here we go!

Haunter (2013)

H 2Sebagai film pembuka, Haunter bukanlah film yang buruk. Film garapan sineas Vincenzo Natali ini mempunyai ide cerita orisinil yang lumayan menarik. Agak-agak Triangle-esque dan The Other-esque, cerita film ini dimulai ketika Lisa (Abigail Breslin) sadar bahwa ia selalu mengulangi hari yang sama, tapi keluarganya tidak ada yang sadar bahwa mereka terus menerus mengulang hari yang sama. Sampai akhirnya Lisa tahu, bahwa ia dan keluarganya telah meninggal, tapi masalahnya, mereka seperti tidak bisa pergi dari rumah tersebut, karena ternyata ada penghuni lain yang mengunci jiwa mereka di rumah tua itu.

Haunter mungkin mempunyai ide cerita yang lumayan fresh, tapi sayang eksekusi dari sineas yang pernah membesut film thriller seperti Splice dan Cube ini kurang memaksimalkan sekuen-sekuen horor di film berdurasi kurang lebih 90 menit itu. Awalnya menarik, tapi di tengah-tengah film, alurnya berjalan terlalu lambat dan mulai membosankan. Hingga konklusi endingnya yang terasa terlalu draggy, padahal ceritanya lumayan variatif, dari pertama saya sadar bahwa mereka semua adalah hantu, sampai pada situasi ternyata Lisa dan sekeluarga terhubung ke keluarga lain yang tinggal di rumah itu. Tapi ya begitulah, kurang greget dan kurang thrilling.

Thrill-A-Thon rating: 2.5/5

The Returned (2013)

TRHadir sebagai film kedua, The Returned merupakan sebuah film yang cukup fresh menurut saya, tapi jika disandingkan di sebuah acara yang bernama Thrill-A-Thon, nampaknya tidak begitu cocok. Tapi sebagai stand alone film, The Returned memberikan sebuah sajian film bertema zombie dengan pendekatan yang baru. Settingnya dunia sudah dalam masa peralihan setelah virus zombie dapat diatasi. Orang yang sudah menjadi zombie dapat diobati secara berkala supaya normal kembali, tapi masalah datang ketika obat penangkal zombie ini hampir habis dan menimbulkan banyak kekacauan. Salah satunya adalah sepasang kekasih, Alex (Kris Holden-Ried) dan Kate (Emily Hampshire), dimana Kate harus mati-matian mendapatkan obat penangkal zombie bagi Alex yang ternyata pernah menjadi zombie dan persediaan obatnya mulai menipis.

Ya, film garapan Manuel Carballo ini cukup menarik dan cukup orisinil. Bagaimana kalau wabah zombie bisa disembuhkan? Film inilah yang menjadi jawabannya, tapi ternyata masalah tidak berhenti sampai disitu, maka film berdurasi 98 menit ini mengeksplorasi masalah emosional terdalam, apalagi ketika menyangkut perasaan seorang wanita kepada kekasihnya yang dulu pernah menjadi zombie. Drama dan tragedi melebur satu menjadi tontonan tentang zombie yang lumayan refreshing. Well, it’s good to watch a zombie movie with different approach.

Thrill-A-Thon rating: 3/5

Magic Magic (2013)

MM 2Mungkin dari empat film yang tayang di Thrill-A-Thon, Magic Magic merupakan film paling susah dicerna oleh penonton kebanyakan, padahal di film ini ada nama-nama aktor dan aktris muda Hollywood yang sedang naik daun. Ada Michael Cera, Juno Temple sampai Emily Browning beradu akting disini, tapi dengan tema psikologikal thriller yang digarap oleh sineas Sebastian Silva, Magic Magic mungkin menjadi film paling ‘annoying’ Sabtu malam kemarin. Ceritanya tentang Alicia (Juno Temple) yang ikut liburan bersama teman-temannya ke Chili. Ada Brink (Michael Cera), Agustine (Agustín Silva) dan Sara (Emily Browning) yang menemani Alicia. Tapi setibanya disana, Alicia mulai berkelakuan aneh dan agak janggal, apalagi ketika ia tidak bisa mengimbangi kejahilan dan lelucon-lelucon sinting Brink yang kelewat konyol.

Magic Magic merupakan salah satu film yang mengisi slot midnight series di Sundance Film Festival tahun kemarin. Konsep ceritanya sangat annoying, karena kita seperti diajak masuk ke kepala Alicia yang mulai bertingkah absurd dan random, dari mulai gelisah sampai kondisi sleep walking yang tidak wajar. Saya sendiri dibuat bertanya-tanya sepanjang film ini berjalan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Alicia? Apa dia kerasukan, terhipnotis atau punya penyakit mental langka seperti dual personality atau apapun itu namanya. Intinya, mulai dari tengah hingga akhir, anda akan merasakan pengalaman yang tidak nyaman menonton kelakuan aneh Alicia, satu-satunya yang dapat menetralkan pikiran saya adalah melihat akting Michael Cera yang setengah absurd setengah konyol sampai akhirnya ditutup dengan ending yang anti klimaks. What a confusing movie.

Thrill-A-Thon rating: 2.5/5

3 AM Part 2 (2014)

3AMSebagai film terakhir di Thrill-A-Thon, saya menaruh banyak harapan pada film omnibus horor Thailand ini, tapi nyatanya, hasilnya adalah nol besar! 3 AM Part 2 ini adalah omnibus horor terburuk dan terkonyol yang pernah saya tonton di layar bioskop, sebuah omnibus yang memalukan nama Thailand yang menjadi pelopor bangkitnya film horor tahun 2000-an yang bisa membuat anda merinding semalaman. Ya, 3 AM Part 2 mempunyai tiga cerita yang masing-masing cerita ada benang merahnya. Tapi eksekusinya mungkin setara dengan film-film horor kampungan milik production house kampungan Indonesia itu. Apalagi 3 AM Part 2 memakai embel-embel ‘3D’ di dalamnya, membuat kadar kebodohan omnibus film ini makin terlihat nyata.

Satu-satunya segmen yang menghibur di omnibus ini mungkin segmen terakhir (The Offering), itupun karena ceritanya seperti cerita komedi, yang seharusnya tidak disandingkan dengan segmen-segmen lain di omnibus horor. Segmen pertama (The Third Night) dan kedua (The Convent) total konyol, apalagi segmen kedua yang sudah mulai absurd dan tidak jelas mau dibawa kemana arahnya. Ya, ekspektasi akan dibuat menjerit-jerit di acara yang mempunyai nama THRILL-A-Thon ini kandas sudah. Tidak ada satupun film yang diputar disini memberikan suasana mencekam sepenuhnya. Dan mereka pun mengadakan kuis berhadiah horor survival kit di acara ini, sayang sekali, saya tidak butuh survival kit sedikitpun untuk bisa melewati empat film yang diputar di Thrill-A-Thon, yang saya butuhkan hanya bantal dan mesin waktu untuk kembali ke sepuluh menit sebelum acara ini dimulai, agar bisa pulang lagi ke rumah.

Thrill-A-Thon rating: 1.5/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s