Comic 8 (2014/Indonesia)


Let's rob a bank!

Let’s rob a bank!

Bukan Anggy Umbara namanya kalau tidak bisa membuat film yang sarat dengan pesan moral, mau filmnya bergenre komedi sekocak apapun, pasti selalu ada nilai positif yang bisa kita ambil dari setiap filmnya. Tapi sedikit prolog dari saya, Mama Cake merupakan film karya Anggy Umbara yang pertama saya tonton, jujur saya cukup takjub karena Anggy Umbara berani membuat sebuah film yang agak berbeda dari film-film indonesia pada umumnya. Lewat Mama Cake saya melihat ada drama, komedi dan ironi yang disampaikan dengan cara yang membumi, walau mungkin bagi sebagian orang film tersebut seperti sedang menceramahi, tapi saya salut, Anggy Umbara bisa menyelipkan konten yang mungkin tidak cocok dicerna sembarang orang tapi dengan gaya yang kekinian. So, kedepannya, film-film Anggy Umbara termasuk salah satu film yang saya antisipasi, seperti karya terbarunya yang melibatkan para stand up comedian alias comic untuk beradu akting, yaitu Comic 8.

Jujur, trailer Comic 8 yang saya tonton di penghujung tahun lalu cukup membuat saya penasaran akan isi filmnya nanti, dan setelah banyaknya words of mouth yang berkomentar bahwa Comic 8 layak tonton karena memang lucunya nampol, maka rasa penasaran saya makin besar. Beruntung, minggu kemarin saya menyempatkan diri menonton Comic 8 bersama para cast and crew-nya, termasuk Anggy Umbara tentunya. Satu audi bioskop hampir full house, dan saya cukup menikmati jalan cerita Comic 8, karena Anggy Umbara tidak membuat sebuah film komedi kacangan yang plotnya terlalu klise. Lewat Comic 8, penonton agak diajak ‘berpikir’ sebentar diluar adu akting dan dialog para comic-nya yang kelewat konyol dan mungkin sebagian ada yang garing juga, he-he.

Ceritanya sederhana, ada tiga grup perampok yang merampok bank yang sama dan akhirnya saling bekerja sama untuk menguras isi bank tersebut. Ada grup perampok lumayan serius yang terdiri dari Ernest, Kemal, dan Arie. Kemudian ada grup perampok bodoh yang terdiri dari Bintang, Babe dan Fico. Dan terakhir ada grup perampok aneh yang terdiri dari Mongol dan Mudy. Mereka berdelapan berhasil menguasai bank yang dirampoknya sampai akhirnya aksi mereka dijegal oleh kepolisian setempat yang diwakili oleh Nirina dan Boy William. Aksi-aksi eksplosif pun tak terhindarkan diantara para perampok dan para polisi sampai akhirnya kita diajak untuk mengetahui lebih dalam siapa sebenarnya para grup perampok ini dan apa motifnya.

So, tidak ada konten ‘ceramah’ yang intens di Comic 8 memang, tapi beberapa jokesnya sekarang mulai melebar ke isu-isu sosial yang sedang hangat-hangatnya yang mungkin ikut merepresentasikan suara hati setiap orang banyak saat ini. Ya, Anggy Umbara selalu bisa membaca situasi dan keinginan penonton sekarang, potensi para comic yang dimanfaatkan di film ini pun menurut saya merupakan satu langkah tepat untuk menggaet lebih banyak penonton. Jokesnya banyak yang fresh dan tidak kacangan, walau harus diakui tensi ceritanya agak naik turun, diawal-awal, saya sudah dihajar dengan gimmick-gimmick konyol yang mengiringi perkenalan para karakternya yang sukses membuat saya tertawa puas, tapi di tengah-tengah, film ini mulai agak melempem, seperti para comic yang kehabisan ide di tengah panggung, sampai akhirnya dibawa naik lagi di penghujung film.

Belum lagi efek-efek visual yang terlalu berlebihan, seperti efek slow motionnya yang terlalu diforsir di beberapa adegan yang sebenarnya adegan tersebut tidak begitu keren jika dibuat slow motion. Bagi saya pribadi, cita-cita Anggy Umbara untuk menaikkan harkat derajat kualitas visual film Indonesia agar setara dengan film luar patut dipuji, tapi mungkin caranya harus lebih dikontrol dengan bijak. Sama halnya dengan Transformers-nya Michael Bay, saya pun capek jika melihat terlalu banyak efek slow motion di dalam satu film diluar adegan peluru berhamburan dari senapan mesin.

So, overall, Comic 8 mungkin salah satu karya Anggy Umbara yang lebih ‘mainstream’ dan lebih mengena ke penonton luas, tidak seperti Mama Cake yang mungkin masih terlihat idealismenya. Tapi so far, hal tersebut bukan masalah bagi saya, Comic 8 tetap sebuah sajian komedi alternatif bagi perfilman Indonesia. Banyak wajah baru, plot cerita yang dibuat serius dan tidak asal-asalan, dan dedikasinya untuk lebih mendekatkan Comic 8 ke standar film-film internasional. Well, kalau kata juri di acara stand up comedy, Comic 8 ini saya beri nilai kompor gas! Silakan buktikan sendiri.

Rating: 3/5

One thought on “Comic 8 (2014/Indonesia)

  1. Pingback: My Favorite Indonesian Movies (And Not So Favorite) of 2014 | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s