Lone Survivor (2013/US)


Anything in life worth doing is worth overdoing. Moderation is for cowards

Anything in life worth doing is worth overdoing. Moderation is for cowards

Mungkin Hancock dan Battleship telah membuat Peter Berg sadar, bahwa sebenarnya dirinya ditakdirkan untuk membuat film-film perang berskala global layaknya The Kingdom yang rilis tahun 2007 silam. Di penghujung tahun 2013 kemarin, Peter Berg merilis film perang terbarunya berjudul Lone Survivor, yang tanpa basa basi menjadi film favorit terbaru saya di tahun ini. Ya, saya baru berkesempatan menonton Lone Survivor di bioskop minggu kemarin, tapi hasilnya sesuai dengan ekspektasi saya, Lone Survivor mungkin menjadi satu karya terbaik Peter Berg, apalagi isu yang diangkatnya tergolong sensitif, yaitu perang Amerika dengan Taliban di Afghanistan, yang seperti kita tahu pasti film yang mengangkat tema perang di timur tengah seperti ini selalu menampilkan keheroikan tentara Amerika yang berlebihan.

Diangkat dari kisah nyata yang dialami seorang tentara Navy Seal di tahun 2005, bernama Marcus Luttrell, Lone Survivor menceritakan kemalangan operasi red wings di pegunungan Afghanistan yang menelan korban kurang lebih 18 tentara Navy Seal. Tapi sebelumnya, mari berkenalan dengan para jagoan Amerika di film ini, ada Marcus (Mark Wahlberg), Murphy (Taylor Kitsch), Dietz (Emile Hirsch) dan Axe (Ben Foster), mereka adalah empat sahabat yang siap terjun di pegunungan Afghanistan untuk mengintai salah satu petinggi taliban yang brutal, yaitu Ahmad Shah (Yousuf Azami). Tapi rencana pengintaian mereka buyar ketika tanpa sengaja Marcus dkk dipergoki penggembala kambing yang kebetulan melewati jalur pengintaian mereka di pegunungan curam tersebut. Jawabannya sudah jelas, setelah melewati perdebatan sengit diantara empat sekawan ini tentang moralitas, mereka memutuskan untuk melepaskan para penggembala kambing dan kabur ke dataran yang lebih tinggi, tapi tanpa disadari, para pasukan Taliban sudah mengepung Marcus dkk, dan seperti pribahasa ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’, alat komunikasi para jagoan Navy Seal ini tidak ada yang berfungsi, sehingga mereka harus menghadapi berlusin-lusin pasukan Taliban sendirian.

Mungkin anda berpikir bahwa film ini akan sangat ‘Rambo-esque’ sekali, karena mereka hanya berempat dan Taliban ada sekitar puluhan, bagaimana mungkin mereka bisa menang? Jawabannya adalah, tidak ada yang menang. Sedari awal, film ini membangun alurnya dengan solid, seperti idiom ‘calm before the storm’, kita akan diperkenalkan dengan aktivitas casual keempat tentara ini di pangkalan, sebelum mereka terjun melakukan operasi red wings. Sebenarnya, dari opening credit pun, kita sudah disuguhi cuplikan-cuplikan footage asli latihan para tentara Navy Seal yang luar biasa spektakuler, rentetan footage-footage yang diiringi scoring heroik itu seperti menumbuhkan awareness pada penonton bahwa inilah para jagoan Amerika sebenarnya.

Apalagi ketika kita mulai kenal lebih dekat dengan Marcus, Murphy, Dietz dan Axe, yang ternyata mereka sama seperti orang-orang biasa pada umumnya, mempunyai keluarga, tagihan yang harus diselesaikan dan permintaan konyol dari para istri. Alhasil, from the beginning, sudah terjadi ikatan emosional antara penonton dan para jagoan di film ini, sampai akhirnya masuk fase kedua, dimana mereka berempat dibuat tidak berdaya oleh para pasukan Taliban yang brutal. Di fase kedua ini Peter Berg seperti menunjukan bahwa sehebat-hebatnya mereka berempat, tetap saja mereka itu manusia biasa yang tidak bisa menahan berondongan peluru yang terus-menerus digelontorkan para pasukan Taliban.

Sampai akhirnya kita masuk fase ketiga, dimana sisi berimbangnya mulai dimunculkan di film ini, bahwa stereotip semua Arab itu adalah teroris tidak benar. Ya, lewat Lone Survivor, skrip yang ditulis Peter Berg dan Marcus Luttrell-nya sendiri (based on book) itu memang tidak memihak siapapun, mereka hanya ingin memperlihatkan sisi buruk dari perang yang satu dekade terakhir ini terus berkecamuk di timur tengah, khususnya Afghanistan. Mereka menyadari bahwa para tentara Amerika setangguh Navy Seal pun bukan seorang jagoan yang bisa melibas siapapun di depannya, sama halnya dengan para warga pedesaan yang tinggal di pegunungan Afghanistan yang keras tersebut, tidak semuanya adalah Taliban, tidak semuanya adalah teroris.

Semua unsur heroik, perang dan kejahatan menyatu dengan baik menjadi sebuah tontonan berdurasi tidak lebih dari dua jam yang mengesankan. Lewat Mark Wahlberg, Taylor Kitsch, Emile Hirsch dan Ben Foster yang tampil meyakinkan dan dominan selama film ini berjalan, saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir, apalagi karakter-karakter pendukungnya pun sama-sama memorable, seperti Eric Bana yang menjadi Erik Kristensen dan Alexander Ludwig yang menjadi tentara rookie Shane Patton yang sering di-bully Marcus dkk, semuanya tampil makin apik ketika dibarengi teknis visual yang mumpuni (sinematografi yang cukup ‘breathtaking’ untuk ukuran film perang) dan sound design-nya yang menakjubkan. Desingan-desingan peluru dan ledakan roket-roket RPG terasa sangat nyata di telinga saya, semua chaos yang terjadi di tengah hutan pegunungan tersebut terasa apa adanya, tidak begitu berlebihan walau adegan ketika mereka terjun bebas dari tebing mungkin terlihat cukup tidak masuk akal, tapi percayalah, katanya lebih banyak kejadian yang mungkin tidak bisa dipercaya tapi memang terjadi di kejadian nyatanya. Seperti cederanya kaki Marcus selama baku tembak dan kejar-kejaran terjadi, di film ini diperlihatkan bahwa Marcus bisa berjalan dengan menyeret kakinya, tapi menurut kejadian aslinya, Marcus harus ‘ngesot’ hanya dengan bantuan sebilah pisau untuk bisa bergerak, wow!

Fase terakhir adalah fase penutup yang menambah nilai lebih film yang diangkat dari kisah nyata ini, dengan montage foto-foto para karakter di film ini yang asli dan juga iringan lagu ‘Heroes’ milik David Bowie yang di-remake ulang, Lone Survivor langsung meninggalkan kesan yang mendalam di hati saya, belum lagi kita selalu ingin tahu apa yang terjadi biasanya setelah konflik seperti ini berakhir, apalagi nasib para warga pedesaan yang menolong Marcus. Ya, tanpa melupakan semua itu, penonton akan diberi tahu bagaimana nasib para penolong Marcus, sebuah kejadian yang mungkin jarang diangkat di film-film perang bertema sama, yang selalu menampilakan sisi ‘Amerika’-nya yang dominan. Salut untuk Peter Berg dan seluruh cast and crew yang membuat film ini, tidak percuma saya menontonnya di bioskop, sangat puas dan sangat worth it. Kalau anda suka film perang, Lone Survivor tidak boleh sampai dilewatkan, buktikan saja sendiri, enjoy!

Rating: 5/5

2 thoughts on “Lone Survivor (2013/US)

  1. Pingback: My 15 Favorite Movies of 2014 (That I’ve Seen in Movie Theater) | zerosumo

  2. Pingback: American Sniper (2014/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s