Killers (2014/Indonesia)


It's killing time!

It’s killing time!

Setelah kemarin membahas film psikologikal thriller dari negeri paman sam yang kurang memuaskan, sekarang saya ingin sedikit ngobrol tentang film bergenre sama yang datang dari negeri sendiri. Film yang saya maksud adalah Killers, disutradarai oleh Timo Brothers yang pernah menukangi film slasher Rumah Dara beberapa tahun yang lalu, Killers hadir dengan skala yang lebih besar tapi entah kenapa kurang memuaskan. Banyak review beragam pasca rilisnya film psikologikal thriller Indonesia yang bekerjasama dengan Jepang ini, dan mungkin saya adalah orang yang berada di tengah-tengah review baik dan buruk tersebut, di satu sisi, Killers mempunyai ide segar yang menceritakan seorang jurnalis yang terkoneksi dengan seorang pembunuh di belahan dunia lain, tapi di sisi lain, alur cerita dari film berdurasi lebih dari dua jam ini terasa sangat melelahkan untuk diikuti.

Filmnya sendiri dibuka dengan adegan berdarah-darah yang sepertinya sudah menyimpulkan akan seperti apa film ini berjalan nantinya. Kita akan berkenalan dengan seorang pembunuh bernama Nomura (Kazuki Kitamura) yang tinggal di Tokyo dan suka meng-unggah video-video penyiksaannya ke internet. Lalu ada Bayu (Oka Antara) di Indonesia, seorang jurnalis yang sedang bermasalah gara-gara berurusan dengan seorang politikus bernama Dharma (Ray Sahetapy). Di sela-sela kegalauannya, Bayu sering berselancar di internet dan tak sengaja selalu menonton video-video aksi Nomura, yang tanpa sadar membuat Bayu ingin merekam kejadian brutal yang terjadi gara-gara dirinya sendiri.

Ya, makin sering Bayu melihat video gila Nomura, dirinya serasa di-motivasi untuk membunuh orang-orang yang dibencinya, dalam kasus Bayu adalah Dharma dan antek-anteknya. Tapi dengan kondisi Bayu yang makin tak stabil gara-gara faktor internal dengan keluarganya sendiri, tindakan Bayu untuk menjadi semi-vigilante/pembunuh berkamera makin tak terkendali dan makin ceroboh. Sampai akhirnya terjadi komunikasi antara Bayu dan Nomura tentang ‘how to kill your target perfectly’. Sampai disini, Killers lumayan membuat saya terpaku di depan layar bioskop, tapi entah kenapa, menginjak tengah-tengah film, saya mulai merasakan kegelisahan karena plot Bayu makin mellow dan mengesalkan sementara plot Nomura yang sedang struggling menghadapi bayangan masa lalunya juga tidak kalah ‘draggy’-nya.

Dapat dikatakan Killers ini termasuk karya Timo Brothers yang terlalu ambisius menurut saya, karena memang, dalam membuat sebuah drama yang terkoneksi hubungan antar karakternya itu tidaklah mudah, apalagi dalam drama thriller ini yang dilibatkannya adalah karakter pembunuh. Selain itu masih terlihat ketimpangan antara sisi Indonesia dan sisi Jepang, walau jika ditarik benang merahnya, nuansa “film dari benua Asia”-nya tetap terasa. Tapi nampaknya sisi Jepang digarap lebih elegan dan lebih misterius dari sisi Indonesia, plot Nomura lebih mempunyai ‘hati’ daripada plot Bayu yang sebenarnya permasalahannya klise, gara-gara karirnya yang terjun bebas dan istri cantik yang mulai meninggalkannya.

Sebagai film kolaborasi yang ditunggu-tunggu kehadirannya, Killers tidak begitu buruk tapi tetap kurang memuaskan saya, apalagi ketika final showdown antara Bayu dan Nomura terjadi, tampak terlalu cheesy dan salah di mata saya. Saya pikir pertemuan mereka face-to-face akan menjadi pamungkas film yang tidak akan terlupakan, tapi entah kenapa beberapa hal tersebut agak terganggu dengan adanya unsur-unsur non teknis yang agak konyol seperti air liur Oka Antara yang ‘berlebihan’ dan adegan ‘lompat indah’ Bayu dan Nomura yang terlalu didramatisir dengan dukungan visual effect yang kurang mumpuni, kenapa tidak dibuat sesederhana mungkin saja.

Overall, apa yang saya rasakan ketika menonton Killers sama rasanya ketika saya menonton Oldboy remake, ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang tidak terpuaskan, tapi bukan berarti film ini buruk, hanya saja kurang ‘mulus’ dalam finishing-nya. Well, tapi apa mau dikata, sebagai salah satu karya paling ambisius yang datang dari sineas Indonesia, saya harus tetap memberikan apresiasi penuh pada Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto, jarang-jarang sineas Indonesia yang mau bermain di area non-mainstream seperti ini. So, mungkin saja saya dan anda berbeda, kalau ada waktu silahkan buktikan sendiri film ini seperti apa buat anda, enjoy!

Rating: 3/5

4 thoughts on “Killers (2014/Indonesia)

  1. coba hitung air liur dan ingusnya oka di film ini :)) , mungkin tadinya pengen total, tapi malah jadi totaliur atau totalingus. duh maaf komen saya ga mutu wkwkkwk

    Like

  2. Pingback: The Raid 2: Berandal (2014/Indonesia) | zerosumo

  3. Pingback: My Favorite Indonesian Movies (And Not So Favorite) of 2014 | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s