I, Frankenstein (2014/US)


This scene was pretty awesome, probably

This scene was pretty awesome, probably

Monster ciptaan dokter Frankenstein dihidupkan kembali di awal tahun ini dengan film terbarunya yang berjudul I, Frankenstein. Kali ini, sang monster terlibat ditengah peperangan antara kaki tangan malaikat dan para iblis. Diperankan oleh aktor yang pernah mendapat make up super seram di wajahnya dalam film The Dark Knight, Aaron Eckhart dan disutradarai oleh sineas yang masih terbilang baru untuk bisa duduk di bangku sutradara, Stuart Beattie, I, Frankenstein hadir menjadi sebuah film action fantasy yang super cheesy dan mungkin mudah dilupakan para penontonnya. Jadi kalau anda bertanya apakah worth it menonton film ini di bioskop? Saya akan menjawab tidak, tapi bukan berarti film ini hancur sepenuhnya, saya masih bisa menikmatinya, apalagi ketika mereka memasang aktris cantik di dalamnya, Yvonne Strahovski, damn it! They got me!

Harus anda ingat, Frankenstein itu bukan nama monsternya, tapi nama penciptanya, tapi entah kenapa, di akhir film ini, Aaron Eckhart tetap ‘kekeuh’ menyebut dirinya sebagai Frankenstein, entahlah. But anyway, setelah monster ciptaan Frankenstein gagal diculik kelompok iblis, sang monster yang awalnya tak bernama ini diselamatkan oleh para gargoyle yang dipimpin oleh Leonore (Miranda Otto). Leonore pun memberi nama monster tersebut Adam (Aaron Eckhart), tapi sang komandan tertinggi Leonore, Gideon (Jai Courtney), tidak setuju untuk membiarkan Adam hidup, karena ia sedang menjadi incaran pangeran iblis Naberius (Bill Nighy). Setelah percekcokan yang tak kunjung selesai, Adam memutuskan pergi berkelana, meninggalkan kaum gargoyle yang menolongnya dan kembali 200 tahun kemudian, tepat ketika pangeran iblis hampir menemukan teknologi yang dipakai oleh Frankenstein untuk menghidupkan kembali mayat. Maka, perang antara kaum gargoyle dan iblis pun berlanjut di kota yang entah kenapa selalu terlihat malam dan sangat sepi penghuni manusianya.

I, Frankenstein ini mengingatkan saya dengan film Legion yang sama-sama flop ketika perilisannya dulu, bedanya disini, para malaikat tersebut diwakili oleh kaum gargoyle yang mempunyai senjata-senjata berkilau dan keren serta musuhnya bukan manusia (yang entah ada dimana selama kejadian chaos itu terjadi). Alur ceritanya pun sangat predictable dan memang ‘template’ langsung dari film-film bergenre sejenis, tapi spesial efeknya lumayan oke, hanya saja kondisi malam yang terjadi sepanjang film ini berjalan cukup membuat mata saya lelah karena melihat kegelapan terus, rasanya ingin tidur tapi seperti belum diijinkan jika filmnya belum berakhir. Seperti yang saya bilang di awal, satu-satunya yang membuat mata saya tetap terbuka di film ini adalah kehadiran Yvonne Strahovski yang entah kenapa selalu terlihat cantik setelah bergumul dengan para iblis dan gargoyle semalam suntuk, ia seperti dilahirkan untuk selalu tampil cantik walau peperangan yang menghancurkan banyak bangunan di sekelilingnya terjadi.

Intinya, I, Frankenstein memang hiburan instan yang mungkin cocok bagi anda yang sedang kelelahan karena aktivitas sehari-hari, tapi sebagai film yang mengetengahkan tema perang antara gargoyle, iblis dan monster di dalamnya, saya rasa film berdurasi 90 menit ini masih kurang maksimal. Akhir kata, mau dilewatkan juga film ini tak masalah, saya sendiri sebenarnya mau menonton Robocop tadinya, tapi gara-gara teman saya semua sudah menonton Robocop, apa boleh buat, kok jadi curhat? Well, try it for yourself.

Rating: 3/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s