12 Years a Slave (2013/US)


I will not fall into despair till freedom is opportune!

I will not fall into despair till freedom is opportune!

12 Years a Slave ini mungkin film yang paling ‘menyakitkan’ dari sembilan nominasi Best Picture Academy Awards yang saya tonton tahun 2014. Awalnya saya kurang tertarik menonton film-film Amerika yang mengetengahkan isu rasial seperti ini, karena di pikiran saya, film-film seperti itu goal-nya pasti sama, memberi tahu penonton bahwa kita hidup sederajat di muka bumi ini. Film garapan Steve McQueen ini juga sebenarnya mempunyai goal sama, tapi mungkin yang membuat 12 Years a Slave jadi menarik buat saya adalah film ini diadaptasi dari cerita nyata seorang pria negro yang pernah merdeka tapi menjadi budak kembali gara-gara dijerumuskan orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu saya bilang film ini menyakitkan, karena menyuguhkan gambaran bagaimana rasanya jika diri anda adalah orang bebas tapi tiba-tiba dipaksa menjadi seorang budak belian.

Itulah yang dirasakan Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor), seorang pria negro yang hidup bahagia di tahun 1800-an, mempunyai skill bermain biola yang cantik dan hidup harmonis bersama istri dan kedua anaknya setelah menjadi orang merdeka. Tapi suatu saat dirinya dijebak oleh orang asing yang mengiming-imingi uang bayaran untuk bermain biola di suatu tempat, sampai tanpa sadar, Solomon dibius dan dijual ke orang lain sebagai budak belian. Melihat situasi yang tidak memungkinkan, Solomon pasrah menghadapi kenyataan, berpindah dari satu tuan ke tuan yang lain, dari seorang juragan baik hati bernama Ford (Benedict Cumberbatch) yang mempunyai anak buah bejat, Tibeats (Paul Dano), sampai akhirnya menjadi budak keluarga Epps yang terdiri dari sang kepala keluarga yang brutal, Edwin Epps (Michael Fassbender) dan istri (Sarah Paulson) yang tak kalah ‘sensitifnya’.

Ya, film ini menggambarkan perjalanan 12 tahun Solomon menjadi budak yang bukan karena kuasanya, bisa dibayangkan betapa perihnya hidup Solomon yang pernah merasakan menjadi orang bebas tapi tiba-tiba menjadi seorang budak kembali, bagaikan terbangun dari mimpi indah yang hanya sesaat. Karya garapan sineas berdarah british ini memang tipikal film-film bertema isu rasial pada umumnya, tapi mungkin Steve McQueen yang terkenal dengan film Hunger dan Shame-nya yang kontroversial membuat film berdurasi lebih dari dua jam ini menjadi lebih mencekam. Berbagai siksaan dan kehidupan para budak pada jaman itu digambarkan dengan sangat gamblang dan frontal, sama halnya dengan kelakuan para warga kulit putih saat itu, ada yang baik hati terhadap para budak tapi ada yang menganggap para budak belian itu tak ubahnya sebuah properti bagi mereka yang bisa diperlakukan seenaknya.

Gambaran yang mungkin sangat realistis bagi saya pribadi makin meyakinkan setelah didukung oleh penampilan aktor utamanya yang super ciamik. Chiwetel Ejiofor memperlihatkan aktingnya yang natural bagaimana rasanya berada di dalam ketakutan selama menjadi budak, sementara itu Michael Fassbender berhasil membuat saya naik pitam selama film ini berjalan, ia sukses memerankan karakter juragan super brengseknya, baru kali ini saya melihat akting Michael Fassbender yang super duper mengesalkan itu. Selain dua aktor tersebut, jajaran karakter brengsek makin terbantu dengan kehadiran Paul Dano yang memerankan Tibeats, hampir 11-12 dengan pemeran Magneto di X-Men terbaru nanti itu, Paul Dano sekali lagi sukses menjadi orang menyebalkan setelah perannya di film There Will Be Blood. Intinya, film ini sebenarnya bertabur bintang, masih ada Paul Giamatti, Benedict Cumberbatch sampai Brad Pitt yang tampil selewat, tapi memang hanya Chiwetel Ejiofor dan Michael Fassbender yang paling menyita perhatian selain pendatang baru, Lupita Nyong’o yang juga masuk nominasi Actress in a Supporting Role. Scene dimana Edwin Epps mencambuk Patsey yang diperankan Lupita mungkin menjadi scene yang paling membuat saya meringis, painfully to watch. Semua yang dialami Solomon selama menjadi budak di film ini makin terasa pedihnya ketika diiringi alunan scoring Hans Zimmer yang mungkin mengingatkan anda pada scoring Inception, dan saya pikir itu brillian sekali, suram dan menghantui selama filmnya berjalan.

Akhir kata, apakah 12 Years a Slave ini akan menggondol nominasi Oscar paling bergengsi nantinya, sebagai Best Picture Academy Awards ke-86? Kita lihat saja, diantara Gravity yang fenomenal itu, apakah film yang sangat kental isu sosialnya ini bisa mengalahkan perjuangan Ryan Stone terombang ambing diluar angkasa selama 90 menit? Entahlah, tapi jika melihat trend juri-juri Oscar yang tidak terlalu “interest” dengan film-film berspesial efek canggih (terakhir mungkin Titanic), ada kemungkinan besar 12 Years a Slave bisa menang. Tapi yang jelas, 12 Years a Slave maupun Gravity sama-sama memberikan suguhan sinematik yang luar biasa memorable. Well, tunggu apalagi, buktikan saja sendiri mumpung filmnya masih tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Enjoy!

Rating: 4/5

3 thoughts on “12 Years a Slave (2013/US)

  1. Pingback: Non-Stop (2014/UK) | zerosumo

  2. Pingback: Pemeran Baru untuk Star Wars: Episode VII | zerosumo

  3. Pingback: My 12 Favorite Movies of 2014 (That I’ve Downloaded) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s