300: Rise of an Empire (2014/US)


We meet again milady!

We meet again Milady!

So here’s the major spoiler for you, Xerxes is not dead YET in this movie! Oke, mungkin Xerxes belum berhasil ditebas di sekuel sekaligus prekuel film perang 300 yang rilis tahun 2006 silam, berjudul 300: Rise of an Empire ini, tapi percayalah, ke-epikan perang dan pertarungan tumpah darah dan visual memanjakan yang penuh slow motion itu tetap ada. Mungkin ada banyak yang tidak suka dengan film 300 karena visualnya yang berlebihan dan terlalu ‘awkward’ bagi orang kebanyakan, tapi saya bukan termasuk orang yang tidak suka, karena Zack Snyder adalah patron saya jika bicara soal visual film yang paling mendekati source material-nya, hanya ia yang bisa membuat adegan kancing terjatuh ke lantai lebih dramatis daripada kisah cinta Leo dan Kate dalam film Titanic. Makanya saya masih agak berekspektasi terhadap sekuel 300 ini, walau bukan Zack Snyder lagi yang duduk di bangku sutradara, melainkan Noam Murro, tapi itu bukan masalah, karena Zack Snyder masih bertindak sebagai produser disini dan harus saya akui, mungkin secara tidak langsung proses produksi film ini masih terlihat seperti ‘didikte’ oleh Zack Snyder itu sendiri, karena ciri khasnya masih sangat kental sekali di film berdurasi kurang lebih 90 menit ini.

But anyway, diluar ciri khas slow motion, darah dan pertarungan brutal di film pertamanya, sebenarnya apa yang terjadi di sekuelnya ini? Ternyata 300: Rise of an Empire menceritakan dengan detail apa yang sebenarnya menyebabkan Persia menyerang Yunani secara frontal. Kisahnya dimulai dari seorang komandan Athena bernama Themistokles (Sullivan Stapleton) yang 10 tahun sebelum kejadian Leonidas menahan pasukan Xerxes, sudah memulai perang duluan dengan Persia yang waktu itu baru mau berlabuh di Marathon tapi sudah digempur oleh pasukan Themistokles. Disitu juga raja persia saat itu, King Darius (Igal Naor) tewas dipanah Themistokles dari jarak yang mengagumkan, inilah yang membuat anak King Darius, Xerxes (Rodrigo Santoro) menjadi seorang Xerxes yang sekarang, tinggi besar dan entah hasil karena makan apa. Tapi ternyata ada cerita lain, ternyata seorang jendral angkatan laut Persia yang bernama Artemisia (Eva Green) lah yang membuat Xerxes menjadi se-brutal sekarang. Oleh karena itu, di 300: Rise of an Empire, kita akan disuguhi cerita yang sebenarnya bersinggungan, yaitu perang antara Themistokles melawan Artemisia yang terjadi di waktu yang bersamaan ketika Leonidas menahan pasukan Xerxes di gerbang neraka.

Sebagai sebuah sekuel dan juga prekuel, alur ceritanya cukup rasional dan tidak terkesan dipaksakan, karena logikanya memang pada saat itu Yunani sedang berperang menghadapi serangan Persia dari segala arah, termasuk Themistokles yang berperang di atas laut. Jadi tidak heran kalau peperangan kali ini banyak terjadi di atas laut, tetap impresif dan tetap menarik untuk ditonton diluar logika dan fakta tentang kaum Yunani dan Persia saat itu. Tapi saya harus mengakui, opening dan closing film ini cukup mendefiniskan kata ‘epik’ itu sendiri, opening ketika pasukan Themistokles menyerang Persia di Marathon dengan dentuman scoring yang menggebu-gebu cukup ‘membangunkan’ penonton untuk terus terjaga menikmati film yang mungkin hampir sebagian besarnya berisi tentang perang dan perang itu. Bahkan adegan-adegan ikonik yang terjadi di 300 yang entah sengaja atau tidak kembali ditampilkan lagi disini, seperti duet ayah anak di medan perang dan juga aksi Themistokles di opening yang mengingatkan saya pada aksi Leonidas yang bermain ‘solo’ di awal serangan gerbang neraka.

Mungkin tidak ada Leonidas disini (walau hanya diperlihatkan sekilas), tapi masih ada sang istri Leonidas (Lena Headey) yang tidak kalah bad-ass-nya di closing film ini, dan sang anak buah, Dillios (David Wenham) juga Daxos (Andrew Pleavin) dan juga Ephialtes (Andrew Tiernan) yang mengesalkan itu. Beberapa karakter lama muncul tapi yang paling menonjol mungkin hanyalah Artemisia yang diperankan dengan sangat keji oleh Eva Green, di satu sisi ia seperti jendral wanita terseram tapi di sisi lain yang tidak logis, ia terlalu seksi dan menggairahkan untuk menjadi seorang jendral (anda akan tahu sendiri nanti ketika menonton film ini). Walau sudah tidak ada karakter ikonik seperti Leonidas dan tagline maut ‘this is sparta’-nya, yang jelas 300: Rise of an Empire cukup menghibur sebagai sekuel, efek slow motionnya makin menjadi-jadi, darahnya makin kental, tingkat kebrutalannya makin asyik, adegan seksnya disensor (damn!) dan berpotensi membuka jalan untuk film selanjutnya (dan semoga film terakhir yang memperlihatkan kematian Xerxes!), karena yang seperti saya bilang, closing film ini cukup epik, visualnya asyik, narasinya ‘non-stop’ dan ternyata istri Leonidas tidak kalah beringasnya. What a fun and entertaining sequel/prequel of 300, this one is must a see if you fans of the first movie! Kill!

Rating: 3.5/5

NB: Versi 3D-nya juga asyik, worth to try, coba saja buktikan sendiri!

3 thoughts on “300: Rise of an Empire (2014/US)

  1. Pingback: Hercules (2014/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s