The Raid 2: Berandal (2014/Indonesia)


The ultimate fighting scene that will rape your fucking brain!

The ultimate fighting scene that will rape your fucking brain!

Butiran salju yang turun diantara gerobak lomie ayam dan Holland Bakery tidak membuat keepikan sekuel yang dinanti-nanti dari film laga fenomenal tahun 2012 silam ini berkurang sama sekali. Soal salju, beruntung saya mendapat penjelasan langsung dari sang sutradara Gareth Evans, tapi sebelum bicara soal salju, saya harus mengapresiasi total kepada seluruh cast and crew yang terlibat dalam film The Raid 2: Berandal. Dengan skala yang lebih besar dari film pertamanya yang sangat sederhana, The Raid 2: Berandal benar-benar memaksimalkan keuntungan yang didapat dari The Raid untuk dicurahkan sepenuhnya di sekuel yang berdurasi dua jam setengah ini, lebih panjang dan lebih brutal tentunya.

Tampil mengesankan di Sundance Film Festival dan SXSW, ratusan review positif membanjiri The Raid 2: Berandal dengan sangat derasnya. Hal tersebut tidak berlebihan, setelah saya menonton dengan mata kepala sendiri, harus saya akui bahwa Gareth Evans telah berhasil menghadirkan sebuah film dengan genre action yang sebenarnya. Cerita film ini dimulai dua jam setelah ending di film pertamanya. Rama (Iko Uwais) yang sudah meluluh lantahkan satu gedung apartemen milik Tama (Ray Sahetapy) mau tak mau harus bekerja sama dengan Bunawar (Cok Simbara), seorang agen polisi anti korupsi yang sedang berusaha membongkar jaringan kriminal yang lebih besar dari Tama terdahulu.

Demi keselamatan keluarganya, Rama masuk ke dalam penjara sebagai Yuda, hanya untuk mendekati Uco (Arifin Putra), anak bos mafia bernama Bangun (Tio Pakusodewo). Perlu diketahui sebelumnya bahwa Bangun telah menguasai daerah underground Jakarta bersama bos mafia Jepang bernama Goto (Ken’ichi Endô). Tapi kerajaan kriminal mereka terusik oleh kehadiran Bejo (Alex Abbad), seorang bos mafia independen yang berusaha merebut daerah kekuasaan Bangun dan Goto dengan ditemani tiga algojonya yang super brutal, yaitu Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman), Hammer Girl (Julie Estelle) dan The “MIGHTY” Silent Assassin (Cecep Arif Rahman) yang menjadi momok paling mengerikan bagi Prakoso (Yayan Ruhian), algojo andalan Bangun sekalipun. Dan disitulah Rama berada, ditengah-tengah chaos yang sedang terjadi diantara keluarga para mafia, seperti film pertama yang mengharuskan Rama keluar hidup-hidup dari apartemen milik Tama, di sekuelnya Rama juga harus bisa keluar hidup-hidup dari perang antar keluarga mafia yang tak mengenal ampun ini.

Bicara The Raid 2: Berandal, ekspansi ceritanya makin luas, beragam dan membuat film ini tidak sesederhana The Raid yang lebih bernuansa survival thriller. Disini, penonton sedikitnya dibawa menyelami kehidupan para bos mafia dan antek-anteknya lebih dalam. Ada intrik, ada skandal serta banyak pengkhianatan. Hal tersebut diperlihatkan dengan sangat jelas oleh Uco yang terlalu berapi-api dalam menghadapi situasi sepele sekalipun, dan menganggap Bangun sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Intinya, The Raid 2: Berandal ini lebih asyik untuk ditonton karena saya pribadi tidak kehabisan nafas gara-gara disuguhi adegan bertarung yang tidak ada ampun seperti di film pertamanya, dan tema mafia, dunia hitam dan tetek bengeknya tergolong tema yang jarang diangkat di film-film Indonesia, dan Gareth Evans berhasil menyajikannya dengan baik, membaur mulus dengan ciri khas film ini, yaitu endless-fucking-awesome-top notch action.

Masih ada Yayan Ruhian disini, tapi lebih ke karakter pendamping yang masih tetap bad-ass, tapi kegilaan film ini dimulai ketika sosok The Silent Assassin yang diperankan Cecep Arif Rahman muncul, membuat bulu kuduk saya merinding ketika melihat senyumnya yang sangat tipis itu. Kehadiran Cecep Arif Rahman disini diiringi dengan butiran salju yang turun di tanah Indonesia, loh kok bisa? Setelah sesi tanya jawab dengan Gareth Evans, doski menjelaskan dengan sederhana bahwa ia memang menginginkan salju di scene tersebut, karena cipratan darah akan terlihat sangat indah nantinya, ha-ha. Tapi alasan lain sutradara yang terlihat seperti turis bule pada umumnya ini mengatakan bahwa salju itu sebagai metafor kehadiran Bejo di layar, mengingat Bejo selalu menggunakan mantel tebal, jadi nuansa sekelilingnya selalu dingin dan mencekam. Jadi pertanyaan salju tersebut terjawab, bukan? Bagi saya sih sudah cukup terjawab, dan saya mengamini alasan Gareth Evans tersebut.

Tapi tidak bisa dipungkiri, final fight scene antara Iko Uwais dan Cecep Arif Rahman termasuk pertarungan paling epik sejagat film-film martial arts yang pernah saya tonton. Memang banyak fight scene memorable di film ini, seperti prison riot, toilet riot sampai threesome riot antara Rama, Hammer Girl dan Baseball Bat Man, tapi seperti pepatah yang mengatakan ‘save the best for the last’, saya hampir meneteskan air mata melihat pertarungan hand to hand sampai karambit to karambit Rama dan The Silent Assassin, terlalu indah dan terlalu membuat bulu kuduk saya merinding, GILA!

Jadi, apalagi yang harus anda tunggu untuk menonton film ini, apalagi kalau anda penggemar film pertamanya, pasti anda akan dibuat menangis sampai lutut lemas melihat keepikan yang terjadi selama dua jam setengah ini. Semua aspek film ini hampir memuaskan saya jika memang anda mencari film action yang tidak kacangan, akting Tio Pakusodewo brilian, dialog serba belibet Cok Simbara tentang “lu, gua, saya, kamu” memang mengganggu tapi dapat dimaafkan, Arifin Putra terlihat tidak seperti anak manja lagi, Julie Estelle cantik seperti biasa walaupun berlumuran darah, Oka Antara berperan lebih bagus dari peran di film Killers-nya, bahkan Yayan Ruhian pun punya sisi lembut di film ini, dan anda akan terkejut ketika melihat istri sang Prakoso di film yang disyut dengan menggunakan RED camera sampai Epic camera ini. Bagaimana dengan Iko Uwais? Ah, tidak usah ditanya lagi, ia berhasil menjadi super saiya di The Raid 2: Berandal.

So, what the fuck are you waiting for?

Rating: 5/5

NB: Penasaran dengan behind the scene-nya The Raid 2: Berandal? Enjoy!

7 thoughts on “The Raid 2: Berandal (2014/Indonesia)

    • Emang nanti bakal ada The Raid 3, kan Gareth EVans udah bilang kalo The Raid 2 kan nyeritain 2 jam setelah ending film pertama berakhir sedangkan The Raid 3 nanti bakal nyeritain 2 jam sebelum The Raid 2 berakhir, jadi nanti Rama kayaknya entah bakal terlibat apa sama si jepang dan polisi korup lainnya, sabar menanti aja nih ampe film terakhirnya🙂

      Like

  1. Pingback: Lima Adegan Film Laga Favorit Gareth Evans | zerosumo

  2. Pingback: 5 Deleted Scene Tambahan The Raid 2: Berandal | zerosumo

  3. Pingback: John Wick (2014/US) | zerosumo

  4. Pingback: Pendekar Tongkat Emas (2014/Indonesia) | zerosumo

  5. Pingback: My Favorite Indonesian Movies (And Not So Favorite) of 2014 | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s