Jalanan (2014/Indonesia)


Jalanan

Jalanan itu keras, cuk!

Dokumenter Daniel Ziv ini menarik untuk ditonton sebab menyajikan kisah tiga pengamen ibukota, Ho, Boni dan Titi. Kamera mengikuti jatuh bangun pahit getir ketiga pengamen ini. Saya takut film ini akan ala-ala Mario Teguh atau kebanyakan tangisan seperti sinetron tetapi ternyata tidak.

Pengamen-pengamen ini adalah penghuni gerbong paling belakang di kereta Snowpiercer yang kalau masuk metromini bahkan ketika mereka bilang “Assalamualaikum” tak ada satupun yang mau menjawab. Seolah salam dari pengamen tidak perlu dijawab.

Untuk mereka yang ke mana mana pakai umum dan bus, kisah mereka itu terasa “dekat”. Sayang, hanya tayang di tiga bioskop saja di Jakarta. Tetapi saya mengerti sebab dokumenter bukanlah genre seksi, tetapi genre anak tiri dari istri kedua di Indonesia.

Pesan yang disampaikan begitu gamblang. Jurang kaya miskin di Indonesia sudah sangat lebar sehingga jangan heran di bawah jembatan Jalan Sudirman yang “elit” saja ada gelandangan. Perjuangan para pengamen ini patut diacungi jempol, khususnya Titi yang susah payah ingin ikut kejar paket C agar punya ijazah.

Film ini agak kedodoran narasi di tengah seperti ada bagian besar yang terpotong dan masih malu-malu kucing dalam menampilkan pesan lainnya; “Katanya ada negara yang sama rata sama rasa”. Di manakah itu? Tau sama tau aja ya.

Bahasan tambahan saya bukan dokumenter-nya yang penuh lagu-lagu asli sang pengamen yang menarik, tetapi reaksi kelas menengah ngehek di dunia maya.

Okelah kalau mau puja puji, tetapi kalau sudah sampai bilang: “Oh dokumenter ini membuka mata saya”, “kita harus bersyukur”, “mulai saat ini ingin memberi receh pada pengamen” itu artinya ada yang salah dengan kamu cuk.

Kalau dalam waktu senggangmu dalam perjalanan menuju tempat kongkow di warung kopi yang harga secangkir kopi di tempat itu cukup untuk empat bungkus nasi padang bundo kanduang lalu bercanda riang senda gurau kamu ngga melihat ada kemiskinan di depan kamu terus ngga mikir, eh kok yang miskin tambah miskin yang kaya tambah kaya, eh gimana ya rasanya jadi mereka yang mengais-ngais receh hanya untuk makan ada yang salah dengan otakmu kisanak. Tidakkah kau merasa bersalah kongkow terlalu mahal?

Kalau untuk tahu bahwa kenyataannya ada orang yang sebulan penghasilannya cuma cukup untuk makan harus lewat film ini, ada yang salah dengan otakmu kisanak.

Ironisnya film ini diputar di mall sumber hedon dan kapitalisme, para kelas menengah ngehek itu kemudian akan tercengang melihat dokumenter ini lalu kemudian pulang ke rumah masing-masing. Mungkin naik taksi sebab hey, ngapain naik metromini atau angkot, itu kan versi 4DX Jalanan?

Kemudian kelas menengah ngehek ini akan nge-hype di dunia maya, lapor sudah menonton film dokumenter bagus, padahal mereka lupa bahwa bagi ribuan pengamen di Jakarta, hidup bukan film yang diputar di ruangan nyaman ber-AC kursi empuk, hidup adalah 24 jam sehari tanpa kepastian akan hari esok.

One thought on “Jalanan (2014/Indonesia)

  1. Pingback: My Favorite Indonesian Movies (And Not So Favorite) of 2014 | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s