Transcendence (2014/US)


POI + HER = TRANSCENDENCE

Transcendence ini memang film yang judulnya terdengar sangat cutting-edge, mungkin anak-anak hipster menyangka Transcendence adalah band post-rock baru yang sedang naik daun, tapi mereka salah, karena Transcendence adalah film debutan Wally Pfister, seorang sinematografer yang sudah malang melintang di dunia perfilman Hollywood dan mulai dikenal banyak orang karena kerjasamanya dengan Christopher Nolan di The Dark Knight trilogy dan Inception. Tapi setelah perilisan film yang menggunakan jasa para aktor dan aktris Hollywood ternama ini, banyak review negatif yang menghujani ranah dunia maya. Apalagi ketika saya membaca salah satu artikel di salah satu website tentang film yang berjudul Why Do Cinematographers Make Such Lousy Directors? Apakah Wally Pfister se-lousy itu?

Sebelum berbicara lebih jauh soal ke-lousy-an dan tetek bengek lainnya, marilah kita berkenalan dengan Will Caster (Johnny Depp), seorang ilmuwan jenius yang berkiprah di bidang teknologi dalam pengembangan proyek artificial intelligent. Ditemani sang istri yang setia, Evelyn (Rebecca Hall), dan sahabat sesama ilmuwan, Max (Paul Bettany), mereka percaya bahwa teknologi artificial intelligent bisa membantu mewujudkan dunia yang lebih baik. Hingga suatu saat, Will ditembak oleh seorang teroris yang diyakini berasal dari grup yang anti dengan teknologi artificial intelligent yang dikembangkan Will dkk. Kondisi Will yang makin sekarat paska penembakan membuat Evelyn nekat, sang istri berusaha mengunggah memori yang tersimpan di otak sang suami ke dalam software artificial intelligent yang mereka kembangkan. Sampai akhirnya Will tewas, tapi hidup kembali dalam bentuk software pintar. Pada awalnya Will versi komputer ini membantu Evelyn untuk meningkatkan semua kinerja software yang mereka kembangkan, tapi lama-lama, Will bertransformasi—atau lebih tepatnya ber-transendensi menjadi komputer yang kepintarannya melebihi semua software pintar di dunia, dan akhirnya mengancam kehidupan manusia secara global.

Film berdurasi kurang lebih dua jam ini memang sangat kental nuansa sci-fi-nya, tapi jangan salah, dibalik tema teknologi dan transendensi-nya, Transcendence adalah kisah cinta yang bittersweet. Menonton film ini bagaikan menonton serial televisi favorit saya, Person of Interest yang di-mix dengan Her milik Spike Jonze. Dua-duanya mengusung konsep dimana teknologi bisa mengambil alih hidup manusia secara perlahan, maka Transcendence adalah penggabungan dari dua konsep tersebut, teknologi yang tak terkontrol tapi deep down, ia bertransendensi dan mengenal apa itu namanya cinta. Jujur, dari semua review negatif, saya suka dengan cerita yang ditulis oleh Jack Paglen di film ini, Johnny Depp bagaikan Samantha versi pria yang terlalu pintar, dan tanpa make up aneh yang seperti biasa ia pakai di film-filmnya beberapa tahun terakhir ini. Chemistry antara Johnny dan Rebecca pun mengalir dengan natural dan saya suka ending dari kisah mereka berdua di film yang lumayan berbujet besar ini, walau memang harus diakui alur ceritanya tidak mempunyai ritme yang konstan, jadi mungkin sebagian orang akan merasa bosan di tengah-tengah cerita filmnya.

But, that’s not really my problem, saya masih menikmati shoot-shoot cantik dan megah dari Wally Pfister yang mungkin bisa membuat Terrence Malick jealous ketika melihat shoot butiran air yang menetes dari bunga matahari di-dramatisir dengan begitu megahnya. Bahkan opening filmnya pun mengingatkan saya pada film-film Christopher Nolan yang mungkin menjadi inspirasi tersendiri bagi Wally Pfister. Ya, satu kata, megah, Transcendence memang film bervisual megah yang menyelimuti kisah romantis dibalik irisan-irisan sci-fi-nya. Memang tidak sempurna, tapi untuk sebuah film debutan, saya menikmati Transcendence sejujur-jujurnya. Intinya, Wally Pfister tidak se-lousy yang orang pikirkan, namanya sci-fi selalu ada yang suka atau tidak, siapa tahu Transcendence menjadi batu loncatan yang mumpuni untuk menghadirkan film-film bergenre serupa di masa mendatang, tentunya sudah dengan kesempurnaan di semua aspek, bukan hanya visual semata. At least Cillian Murphy, Morgan Freeman atau Kate Mara ada ‘gunanya’ jika membintangi film-film Wally Pfister yang akan datang, he-he. Well, just enjoy it!

Rating: 3/5

2 thoughts on “Transcendence (2014/US)

  1. Pingback: Lucy (2014/France) | zerosumo

  2. Pingback: Chappie (2015/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s