The World’s End (2013/UK)


The ultimate closing for trilogy, ever!

The ultimate closing for trilogy, ever!

Menyesal saya baru sempat menonton film terakhir Simon Pegg dan Nick Frost yang berjudul The World’s End ini. Film ketiga karya Edgar Wright—yang juga sebagai penutup Cornetto trilogy-nya setelah Shaun of the Dead dan Hot Fuzz ini benar-benar puncak kegilaan kolaborasi sineas dan duo aktor komedian asal Inggris itu. Puncak kegilaan yang sesungguhnya kalau boleh saya bilang, seperti yang kita tahu bahwa Shaun of the Dead mengusung tema zombie dan Hot Fuzz lebih mengusung tema crime/action, maka The World’s End ini mengusung tema sci-fi yang super konyol, bahkan banyak sekali adegan-adegan homage ke dua film pendahulunya yang bisa membuat anda penggemar setia film-film Edgar Wright tersenyum kecil.

The World’s End menyatukan lima aktor tenar dan sedikit gila asal Inggris ke dalam petualangan gila yang terjadi sehari semalam. Kita akan berkenalan dengan ketua geng, Gary King (Simon Pegg) yang sedang berusaha mengajak reuni keempat sahabat semasa remaja dahulu, yaitu Andy (Nick Frost), Oliver (Martin Freeman), Steven (Paddy Considine) dan Peter (Eddie Marsan). Reuni yang dimaksud Gary adalah reuni untuk minum satu gelas bir di tiap 12 bar berbeda di kota kelahiran mereka. Masalahnya, ketika semua sudah beranjak dewasa, sangat sulit untuk menyesuaikan waktu, apalagi ada masalah internal diantara Gary dan Andy yang sudah terpendam selama bertahun-tahun. Tapi berkat kelihaian Gary dalam membujuk keempat sahabatnya, mereka pun berangkat ke kota sederhana yang menjadi saksi bisu tumbuh besarnya Gary dkk demi menyelesaikan misi yang tertahan puluhan tahun, yaitu minum bir di 12 bar berbeda. Masalahnya, kota yang pernah mereka tinggali sudah berubah, dan lambat laun Gary dkk pun akan mengetahui hal tersebut dalam kondisi setengah sadar.

Dengan mengusung tema sci-fi, saya harus acungkan jempol kepada Edgar Wright yang tetap bisa mempertahankan konsistensi lelucon dan kegilaan mereka selama kurang lebih dua jam film ini berjalan. Entah kenapa, sekali lagi Simon Pegg menjadi karakter vital yang paling bersinar, apalagi banyak sekali dialognya yang berbentuk argumen-argumen nan konyol dan klasik. Sementara karakter lain sama kuatnya, dari mulai tandem Simon Pegg, Nick Frost yang terlihat jaim di awal-awal, kemudian Eddie Marsan yang super culun, Martin Freeman yang masih main aman dan Paddy Considine yang ternyata bisa juga menyesuaikan diri ke dalam film komedi absurd tapi nyata Edgar Wright ini. Walau didominasi Simon Pegg, tapi kombinasi kelima karakter utama ini membuat The World’s End menjadi tontonan yang tidak membosankan.

Apalagi setelah Edgar Wright menyisipkan banyak sekali referensi film-film lain ke dalam film terakhirnya ini sebelum ia membidani film superhero Marvel Ant-Man nanti. Bahkan homage ke dua film Cornetto trilogy-nya pun tidak lupa disisipkan, siapa yang tidak ingat dengan adegan ‘lompat pagar’ klasik ala Shaun of the Dead sampai ekstrim close up shoot ketika setiap karakter ingin menyalakan suatu benda atau apapun itu yang objeknya kecil. Intinya, kalau anda penggemar film-film Edgar Wright, khususnya yang berkolaborasi dengan Simon Pegg dan Nick Frost, The World’s End adalah film paling gilanya yang harus anda tonton (dan mungkin sudah anda tonton, dan begonya saya baru sekarang). Oiya, adegan terakhir di endingnya sangat tolol gila, pose Simon Pegg di adegan tersebut benar-benar seperti penggambaran ulang pose legendaris Aragorn ketika ingin menyerang markas Sauron di Lord of the Rings, epik dan gila, ha-ha. Fucking must see it!

Rating: 4/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s