Divergent (2014/US)


Divergent

Another “modern” love story

Saya lupa kalau sudah menonton film Divergent beberapa minggu lalu, jadi tidak ada salahnya kalau saya sedikit ngobrol tentang film yang konon masih setipe dengan film The Hunger Games, ada setting dystopia future, ada persaingan dan ada kisah cinta muda mudi di masa depan. Diadaptasi dari novel karangan Veronica Roth yang entah ada berapa seri dan kemungkinan jika bukunya difilmkan terus, seri terakhirnya akan dibagi dua bagian (Harry Potter effect!). Tapi kalau boleh jujur, saya sebagai penonton awam merasa film Divergent ini seperti campuran Harry Potter dan The Hunger Games, ada persaingan antar golongan dan jagoan utamanya berjenis kelamin perempuan.

Entah settingnya berapa ratus tahun dari sekarang, tapi yang jelas Divergent akan mengenalkan kita pada dunia yang sudah tidak sama lagi, dimana nanti manusia terbagi ke dalam lima kelompok atau lima faksi. Ada faksi Abnegation yang maha penyayang terhadap sesama, faksi Erudite yang terdiri dari orang-orang pintar nan jenius, faksi Dauntless yang menjadi kamra alias keamanan rakyat, faksi Amity yang doyan bercocok tanam dan faksi Candor yang bijaksana. Katanya, jika manusia dibagi ke dalam lima faksi seperti ini, maka kedamaian akan tercipta, tapi nyatanya tidak semudah itu juga.

Cerita dimulai dari seorang gadis remaja keturunan faksi Abnegation yang bernama Beatrice (Shailene Woodley), di hari ujian terakhir untuk menentukan ia cocok masuk faksi mana, hasilnya malah mengagetkan, Beatrice bisa masuk faksi mana saja, dan hal seperti ini tergolong langka dan terlarang, oleh karena itu hal yang menimpa Beatrice disebut sebagai divergent, dan orang-orang divergent akan diburu oleh faksi Erudite yang dipimpin oleh Jeanine (Kate Winslet). Tapi sebelum itu, Beatrice memutuskan ikut faksi Dauntless, karena ia selalu terkesima dengan para geng Dauntless yang kemana-mana selalu lari luntang lantung dan nebeng kereta yang tak mempunyai bangku sama sekali di dalamnya.

Tidak lama setelah masuk faksi Dauntless, Beatrice merubah namanya menjadi Tris agar lebih kece, hal tersebut tidak sia-sia, karena sang senior di Dauntless yang bernama Four (Theo James) seperti tidak bisa melepaskan pandangannya terhadap Tris. Alhasil, selama masa orientasi siswa di Dauntless, Tris selalu tertolong oleh saran-saran Four yang super kalem itu. Tapi masalah pun datang, sedang terjadi kekisruhan di dalam pemerintahan, faksi Abnegation ingin dikudeta oleh faksi Erudite yang katanya membagi manusia ke dalam beberapa faksi itu akan menciptakan kedamaian (lah, buktinya?). Tris tidak bisa tinggal diam, karena kedua orang tuanya adalah petinggi faksi Abnegation, tapi masalahnya faksi Dauntless sedang dikontrol oleh faksi Erudite, apakah Tris bisa menyelamatkan kedua orang tuanya dan menyelidiki konspirasi yang sedang dilakukan faksi Erudite sambil membaca sinyal-sinyal cinta Four yang sudah kesemsem dirinya sedari awal?

Sebagai film sci-fi yang sangat kental nuansa adaptasi buku young adult-nya ini, Divergent sebenarnya cukup sukses menghibur saya, diluar beberapa plot hole-nya yang tergolong konyol dan diluar nalar. Tapi yang jelas, sebagai film pertama yang memperkenalkan kita pada universe lima faksi ini, Divergent cukup memberikan bayangan kepada saya akan film-filmnya yang akan datang. Kisah romantismenya sangat cheesy tapi tetap membuat pipi saya merah merona (lho!), aksi-aksi di dalamnya pun standar aksi-aksi The Hunger Games yang nanggung brutalnya, jadi memang ini film untuk remaja yang sedang mencari idola remaja baru, dan Shailene Woodley berhasil menunaikan tugasnya dengan baik. Pose rambut panjangnya yang diurai memang membuat bulu kuduk saya merinding, lebih merinding ketika melihat Jennifer Lawrence berlagak bodoh di The Hunger Games.

Tapi untuk film pertama, durasinya cukup lama bagi saya pribadi, tapi entah kenapa alurnya seperti terlalu terburu-buru, intinya, pembagian plotnya terasa kurang seimbang, terlalu lama dalam tahap pengenalan sehingga ketika konflik mencuat, terlalu cepat berakhirnya. Walau sebenarnya banyak momen-momen romantis nan glorious di dalamnya yang cukup membuat saya lupa kalau saya sedang menonton film sci-fi, alunan lagu-lagu Ellie Goulding pun makin menambah kesan anak muda banget film ini. Satu-satunya yang lumayan mencuri perhatian di film yang disutradarai oleh Neil Burger ini adalah Kate Winslet yang tumben-tumbennya memerankan karakter antagonis. Apalagi ketika saya tahu bahwa ia sedang hamil empat bulan ketika syuting film ini, pantas saja muka jutek dan mengesalkannya sangat natural, toh siapa yang tidak kesal disuruh berakting jahat ketika sedang mengandung anak. Intinya, sebagai hiburan alternatif yang menyasar segmen anak muda, Divergent memang cocok untuk ditonton, bagi saya pribadi pun, Divergent ini lebih seru dari The Hunger Games yang pertama. Kita lihat saja nanti sekuelnya, apakah akan lebih bagus atau justru tidak ada perkembangan sama sekali? We’ll see.

Rating: 3/5

NB: Sedikit behind the scene dari Divergent, enjoy!

2 thoughts on “Divergent (2014/US)

  1. Pingback: The Maze Runner (2014/US) | zerosumo

  2. Pingback: Inilah Jajaran Cast Resmi untuk Film Suicide Squad | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s