The Amazing Spider-Man 2 (2014/US)


The Amazing Spider-Man 2

Hello Mr. Django!

Well, setelah ratusan penonton yang membludak mengantri untuk menyaksikan aksi Spider-Man satu minggu belakangan ini, akhirnya saya baru bisa lagi berceloteh disini. Celoteh saya yang pertama adalah The Amazing Spider-Man 2 (TASM 2) ini lebih asyik dari pendahulunya, walaupun banyak melibatkan karakter baru, tapi alur ceritanya tidak terlalu keteteran seperti yang terjadi pada Spider-Man 3 milik Sam Raimi yang mungkin akan selalu membekas di kalangan fanboy spidey. Sebenarnya saya termasuk orang yang tidak begitu menunggu film ini, karena bagi saya, Spider-Man terbaik itu hanyalah Spider-Man 1 dan 2, dan Peter Parker terbaik itu adalah Tobey Maguire. Belum lagi Sony termasuk studio yang sangat jor-jor-an untuk masalah film spidey ini, entah berapa kali trailer dan TV spot dirilis Sony berbulan-bulan sebelum filmnya rilis demi menarik banyak perhatian orang, beruntung saya tidak terlalu memperhatikan hal-hal tersebut, jadi saya datang ke bioskop dan menonton film ini dengan cukup nyaman tanpa khawatir spoiler dari trailer-trailer tersebut.

Peter Parker (Andrew Garfield) di TASM 2 ini sudah menjadi superhero kesayangan warga New York, melakukan aksi-aksinya seperti biasa tapi tidak bisa lepas dari bayangan ayah Gwen Stacy (Emma Stone) yang tewas di film pertamanya. Alih-alih mau move-on dengan cara memutuskan Gwen Stacy, wanita pintar berambut pirang ini juga tidak mau kalah, ia berencana pindah ke Inggris untuk melanjutkan studinya karena ia tahu Peter Parker sibuk dengan pekerjaan sehari-harinya menyelamatkan kota. Tapi layaknya kisah cinta anak muda yang sedang panas-panasnya, tentu mereka tidak bisa lepas begitu saja. Hanya saja ancaman baru datang, seorang teknisi listrik di Oscorp bernama Max (Jamie Foxx)—yang juga penggemar ‘berat’ Spider-Man berubah menjadi super villain bernama Electro karena kecelakaan yang tidak disengaja. Tidak cukup dengan Electro, Marc Webb selaku sutradara turut menghadirkan juga Green Goblin versi ‘youngster’ yang diperankan dengan sangat apik oleh Dane DeHaan. Tidak sampai disitu, masih ada penjahat beraksen Rusia, Aleksei (Paul Giamatti) yang menjadi Rhino di film yang berdurasi dua jam lebih ini.

Harus diakui, penambahan karakter yang cukup signifikan awalnya membuat saya khawatir akan jalan cerita film yang dibintangi pasangan kekasih asli di dunia nyata ini. Hebatnya, kerumitan plot dan karakter tidak begitu mengganggu selama film ini berjalan, hanya saja mungkin masa lalu ayah Peter Parker terlalu pointless untuk di-highlight di awal-awal film, toh kesananya juga tidak begitu signifikan lagi bagi proses pendewasaan Peter Parker yang sadar bahwa dirinya adalah manusia super. Chemistry romantis Peter Parker dan Gwen Stacy pun tersaji dengan manis dan cantik, apalagi mereka memang sudah pacaran aslinya, dan film ini ditangani oleh seseorang yang pernah membuat film teromantis bagi kaum hipster beberapa tahun kebelakang ini, jadi tidak usah kaget kalau romantisme Peter Parker dan Gwen Stacy sangat unyu-unyu walau harus diakhiri dengan klimaks yang cukup heartbreaking bagi saya.

Maka karena itu saya tidak paham kenapa banyak yang tidak suka dengan sekuel TASM ini? saya memang suka dengan Spider-Man Sam Raimi, tapi TASM pun cukup menghibur walau memang sebenarnya terlalu cepat untuk sebuah remake. Tapi kalau dilihat secara keseluruhan, TASM 2 ini makin melengkapi universe Spider-Man dengan banyak menghadirkan karakter-karakter vital maupun minor yang cukup berpotensi menjadi ‘besar’ di film-film selanjutnya (Alistair Smythe, Felicia, who else?). Apalagi saya belum bertemu J. Jonah Jameson versi Marc Webb yang saya tak yakin bisa menandingi J. Jonah Jameson versi Raimi yang diperankan dengan brilian oleh J.K. Simmons, tapi kita lihat saja nanti. Selain itu, masih banyak clue-clue yang akan berpotensi menjadi musuh Spider-Man selanjutnya dan terakhir yang harus digarisbawahi adalah nuansa komikal yang sangat kental sepanjang film ini berjalan. Humor, romantisme dan aksi heroik melebur dengan sempurna sesuai dengan ekspektasi saya akan Spider-Man yang memang selalu cerewet dan suka beraksi serius dan kadang konyol. Intinya, karakter Peter Parker dengan Spider-Man-nya masih menjadi daya tarik utama di film yang syutingnya betulan di New York ini. Untuk villain sendiri saya suka dengan Green Goblin versi Dane DeHaan, lebih terasa aura gilanya, walau harus diakui Electro yang tampilannya seperti mengekor Dr. Manhattan di Watchmen ini kurang begitu memorable untuk menjadi seorang villain, at least dia sempat memainkan musik dubstep diantara tiang-tiang tesla ketika melawan spidey disini, ha-ha.

Akhir kata, sebagai sebuah sekuel, TASM 2 berhasil tampil cukup baik dari pendahulunya, dan semoga sekuel selanjutnya yang katanya akan melibatkan Sinister Six—enam super villain abadi Spider-Man dalam satu film sekaligus tidak terlihat berantakan seperti yang terjadi pada Spider-Man 3 milik Sam Raimi. At least untuk sekuelnya saya berharap ada kehadiran Mary Jane Watson dan J. Jonah Jameson dan Eddie Brock juga kalau bisa, biar makin komplit! Well, enjoy your favorite web-slinger ever.

Rating: 3.5/5

Sedikit behind the scene yang ternyata banyak menipu mata saya di film aslinya. God bless green screen!

2 thoughts on “The Amazing Spider-Man 2 (2014/US)

  1. Pingback: Spider-Man Jadi Waria? | zerosumo

  2. Pingback: Trailer Magic in the Moonlight dengan Emma Stone | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s