Mari Lari (2014/Indonesia)


Mari LariZerosumo.net – Mari Lari adalah film Indonesia terbaru yang baru saja kemarin saya tonton. Beruntung ketika saya menonton bareng teman-teman MoviegoersBDG like always, acara nonton bareng Mari Lari kemarin juga ikut dihadiri sang sutradaranya, Delon Tio dan juga sang tokoh utama di film berdurasi kurang dari dua jam ini, yaitu Dimas Aditya. Sebagai film drama yang mengangkat cerita tentang perjuangan seorang pria madesu untuk bisa menyelesaikan apa yang ia mulai, Mari Lari cukup memberikan first impression yang lumayan bagus untuk saya. Apalagi dengan menonjolkan olahraga lari yang memang sedang digandrungi banyak kalangan saat ini, Mari Lari memberikan alternatif tontonan Indonesia yang menyentuh tapi tidak menye-menye seperti kebanyakan film romansa medioker lainnya.

Cerita film Mari Lari dimulai dengan brief backstory tentang seorang pria dewasa muda bernama Rio (Dimas Aditya) yang selalu menjadi beban di keluarga karena ia tidak pernah menyelesaikan apapun yang ia mulai sedari kecil. Sampai akhirnya Rio keluar dari rumahnya sendiri atas titah sang ayah (Donny Damara) karena tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya selama 7 tahun. Ditengah keterpurukan itu, Rio makin nelangsa ketika tahu ibunya (Ira Wibowo) meninggal dunia. Maka, pasca sepeninggal ibunya, Rio bertekad menuntaskan apapun yang ia mulai salah satunya adalah dengan menggantikan posisi ibunya yang diundang untuk lomba lari marathon di Gunung Bromo. Tapi dengan sikap dingin ayah Rio dan juga beban pekerjaan dan beban kuliah Rio, ia mulai putus asa tidak bisa menyelesaikan semuanya sampai akhirnya Rio berkenalan dengan Annisa (Olivia Jensen), gadis cantik yang menyemangatinya agar bisa terus berlari demi menghormati sang ibu yang telah meninggalkan Rio.

Sebagai film debutan untuk sang sutradara, Mari Lari dari segi cerita sudah sangat menyentuh dan memang punya hati. Segala konflik yang terjadi di film ini tidak semata-mata konflik picisan yang terjadi pada film-film televisi yang terlalu lebay pada umumnya. Takaran romansa antara Rio dan Annisa pun digambarkan dengan sangat wajar dan tidak terlalu ‘fairy-tale’ sekali, walau memang punchline-punchline Rio disini bisa membuat para wanita geli, tapi harus diakui kalau alur cerita Mari Lari lumayan terjahit rapih dari awal sampai akhir tanpa meninggalkan hubungan ayah anak yang tetap tersaji manis dan berimbang dengan kehidupan Rio sebagai salesman ataupun mahasiswa hampir abadi yang sedang berusaha mengejar cinta Annisa yang terus-terusan dipepet oleh sang bos centil di kantornya.

Mari LariKalau boleh sedikit kritik soal filmnya mungkin lebih ke teknis dan visualnya yang cukup ‘nanggung’ bagi saya pribadi. Banyak memasukan efek-efek animasi sebagai pemanis di suatu film menurut saya tidak terlalu penting kalau memang tidak terlalu berpengaruh pada jalan cerita keseluruhan. Beberapa konsep visual jarak, waktu, daya tempuh dll di Mari Lari ada yang tersaji cukup halus tapi ada yang terlihat cukup buru-buru. Sedikit mengingatkan saya pada film Premium Rush yang memang konsep visualnya disajikan dengan sangat matang dari awal sampai akhir dengan tema yang hampir sama juga, yaitu olahraga.

Tapi diluar semua itu, Mari Lari tetap memberikan suguhan film yang cukup menghibur dan mungkin bisa membuat sebagian wanita yang menonton film ini termehek-mehek. Abaikan product placement-nya yang sangat ramai seperti di pasar ketika menonton film ini, anggap saja semua itu seperti iklan berjalan selama kurang lebih dua jam (walau memang agak mengganggu juga sih). Yang jelas, akting Dimas Aditya sebagai pria ‘from nothing to something’ cukup meyakinkan, dan tentunya penampilan dua aktor kawakan seperti Donny Damara dan Ira Wibowo yang walau hanya selewat tapi sudah cukup mencuri perhatian saya pribadi sebagai penonton. Lalu bagaimana dengan Olivia Jensen? Ya, doski lari-lari cantik dan manis saja sudah cukup kok bagi saya, he-he.

So, anda penggemar olahraga lari? Pastikan anda tidak hanya lari dari kenyataan, mungkin film Mari Lari ini bisa membantu untuk mencari tahu motivasi anda ketika lari besok pagi. Selamat menonton!

Rating: 3/5

3 thoughts on “Mari Lari (2014/Indonesia)

  1. I personally can not ignore the product placement! There must be (at least) a dozen of them deh. Anyways it is a solid first feature, i’d give the scriptwriter the props. I do agree with you with the visual tech. comment, aga nanggung ya? Gaya grafisnya lebih mengingatkan sama Sherlock for me though😀

    Like

    • Yep, sebenernya keganggu sih gw dari awal juga sama product placement, tapi ya udahlah, this is Indonesia, film industry try sooo hard to make profit, but fuck yeah, mau gmana lagi, jadi pasrah ajaaa…

      Ya bener, visualnya lebih ke sherlock pas dia buka2 apps di smartphone samsung yang gak nyeponsorin :’)) tapi gak tau kenapa liat bacaan kilometer di atas kepala orang itu ngingetin gw sama jarak tempuh si JGL bersepeda di Premium Rush aja, haha…

      But, for the first time sitting in the director chair, I give two thumbs for Delon Tio and Ninit Yunita for write a humble screenplay about family, love and passion. Not bad.😉

      Like

  2. Pingback: My Favorite Indonesian Movies (And Not So Favorite) of 2014 | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s