Selamat Pagi, Malam (2014/Indonesia)


Selamat Pagi, MalamZerosumo.netSelamat Pagi, Malam adalah judul dari film Indonesia terakhir yang baru saja saya tonton minggu ini. Sebuah film drama berdurasi kurang lebih 90 menit garapan sineas Lucky Kuswandi ini bercerita tentang perspektif Jakarta di malam hari bagi beberapa orang yang menjadi karakter sentral disini. Mengingatkan saya pada film Jakarta Maghrib karya Salman Aristo yang menceritakan banyak problematika yang dialami para Jakartans sebelum waktu Maghrib tiba. Bedanya, Selamat Pagi, Malam hanya berkutat di tiga cerita di pekatnya malam Jakarta yang disajikan dengan gaya interwoven plot kalau bahasa kerennya, he-he.

Cerita film Selamat Pagi, Malam yang judul bahasa Inggrisnya itu In The Absence Of The Sun ini dimulai dengan cerita Anggia (Adinia Wirasti) yang baru saja pulang dari New York ‘murica dan memutuskan untuk bertemu dengan sahabatnya Naomi (Marissa Anita) yang memperlihatkan pada Anggia bahwa sudah banyak perubahan yang terjadi di Jakarta semenjak dirinya tinggal di ‘murica sana, entah itu perubahan sosial maupun budaya yang membuat Anggia agak culture shock ketika melihat yang terjadi di kota yang menemaninya tumbuh besar itu.

Kemudian ada Indri (Ina Panggabean), seorang karyawati di klub fitness gaul Jakarta yang ingin selalu merasakan yang namanya gaya hidup sosialita dengan cara selalu update dan menghalalkan segala cara untuk terlihat keren, sampai akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan seorang pria yang ia kenal lewat jasa online datingnya. Dan cerita terakhir adalah tentang Ci Surya (Dayu Wijanto), seorang wanita paruh baya yang baru saja ditinggal mati suaminya. Di kala Ci Surya bersedih ia malah mengetahui fakta bahwa almarhum suaminya ternyata dulu sering berhubungan dengan wanita lain bernama Sofia (Dira Sugandi), seorang penyanyi dan prostitusi tenar di salah satu hotel esek-esek yang sangat Indonesia banget (atau lebih tepatnya Jakarta banget).

Selamat Pagi, MalamFilm dengan gaya penceritaan interwoven seperti ini memang terbukti cukup sukses dan cukup menarik di Indonesia karena bisa membuat naik turun emosi penonton, terbukti dengan Rectoverso tahun kemarin, Selamat Pagi, Malam juga tidak jauh beda. Mengawali semua cerita karakternya dengan penjelasan yang sederhana sampai akhirnya diakhiri dengan konklusinya masing-masing yang kalau boleh jujur sebenarnya dari ketiga cerita utama yang tersaji, tidak ada sebuah konflik berarti yang mempengaruhi jalan cerita ataupun pengembangan masing-masing karakter kecuali untuk cerita Ci Surya yang berusaha untuk mendapatkan sebuah closure atas kematian suaminya yang menurut saya cukup menarik jika diangkat lebih jauh daripada cerita Indri dan gaya hidup hipsternya yang gagal total.

Selamat Pagi, MalamTapi jelas sekali Lucky Kuswandi ingin memotret gambaran hidup masyarakat kekinian khususnya para Jakartans dengan cara menyindir banyak aspek hidup yang mungkin bisa membuat kita agak tersenyum sinis ketika menonton film yang katanya skripnya ini butuh waktu delapan tahun untuk diselesaikan. Mengakhiri ketiga cerita setiap insan yang berbeda tersebut di satu hotel esek-esek bernama Lone Star juga merupakan sebuah metafor yang cukup menarik bagi saya pribadi. Tidak selamanya yang terjadi di satu tempat buruk itu semuanya hal buruk, bisa saja hal baik atau hal baru dimulai dari tempat buruk. Layaknya Jakarta yang mungkin sudah tidak kondusif lagi dan mungkin sudah dicap buruk oleh orang-orang, mungkin banyak hal baik dan hal baru juga yang lahir dari ibukota negara tercinta ini ketika pagi menyongsong.

Selamat Pagi, MalamYa, Selamat Pagi, Malam mungkin berhasil menyentil hati nurani para penontonnya. Diluar itu, saya cukup salut kepada hal teknisnya, gambarnya cukup cantik dan enak dipandang mata walau kalau boleh sedikit beropini, suasana malamnya sendiri kurang banyak bagi saya pribadi. Tapi diluar itu semua, Selamat Pagi, Malam tetap menjadi salah satu tontonan yang worth to watch. Datang dari rumah produksi Kepompong Gendut yang dulu pernah membesut Demi Ucok, saya sarankan anda tonton film ini sebelum hilang dari peredaran. Well, tunggu apalagi? Langsung ke bioskop yah sekarang juga!

Rating: 3.75/5

3 thoughts on “Selamat Pagi, Malam (2014/Indonesia)

  1. samaria simanjuntak yang sok2 jadi germo di pintu masuk bar hotel mengganggu bro menurut gue. untung mak gondut juga ga banyak main disini. dia keliatannya aktingnya gitu2 aja. IMHO😀

    Like

    • Haha, mereka kan courtesy dari rumah produksi Kepompong Gendut, jadi gak apa apalah numpang eksis dikit ceritanya, tapi gw juga gak terlalu notice mereka kok, haha…

      Like

  2. Pingback: My Favorite Indonesian Movies (And Not So Favorite) of 2014 | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s