Transformers: Age of Extinction (2014/US)


Transfomers Age of ExtinctionZerosumo.net – Transformers: Age of Extinction mau tak mau saat ini sudah hadir di bioskop-bioskop kesayangan anda. Dan bagi anda yang mau menonton seri keempat dari franchise yang diangkat dari seri mainan terkenal Hasbro itu, siapkan mental dan raga karena film Transformers: Age of Extinction yang masih disutradarai Michael Bay ini berdurasi hampir 160 menit, alias hampir tiga jam, wow! Tapi saya sarankan bagi anda yang tidak puas dengan dua seri Transformers sebelumnya, jangan terlalu berharap banyak pada seri keempat ini. Meskipun yang hadir di film keempat ini hampir semuanya wajah baru kecuali Optimus Prime dan Bumblebee, tapi jalan ceritanya kurang lebih tidak ada peningkataan yang terlalu signifikan dari pendahulunya. Bedanya, Michael Bay mengurangi kadar ke-geje-an di film teranyarnya ini, dan itu cukup untuk membuat saya betah duduk di dalam bioskop dalam waktu kurang dari tiga jam.

Cerita film Transformers: Age of Extinction ini sendiri mengambil setting empat tahun setelah kejadian terakhir di Transformers: Dark of the Moon. Ceritanya sekarang para Autobots dan Decepticons menjadi buronan pemerintah yang dipimpin oleh seorang agen CIA divisi pembasmi-robot-yang-suka-bikin-kacau-bumi bernama Harold Attinger (Kelsey Grammer). Kenyataannya, Attinger memburu satu-persatu Autobots yang masih buron dengan bantuan alien robot lain bernama Lockdown (Mark Ryan) dan pesawat aliennya yang super megah dan super creepy ala pesawat General Zod di Man of Steel.

Sementara itu Optimus Prime (Peter Cullen) tanpa sengaja ditemukan oleh seorang keluarga kecil yang sedang mengalami masa-masa sulit, yaitu Cade Yeager (Mark Wahlberg) sang inventor dan putrinya Tessa (Nicola Peltz). Optimus Prime yang saat itu berbentuk seperti truk rongsokan berhasil dinyalakan kembali oleh Cade tapi tentunya dengan harga yang harus dibayar mahal. Karena sekarang Cade jadi incaran divisi Attinger yang ternyata punya misi tersendiri membantu Lockdown untuk memburu Optimus Prime, yaitu ‘benih ajaib’ atau transformium yang katanya merupakan sumber material alien yang bisa diberdayakan oleh teknologi manusia. Orang yang memberdayakan transformium itu adalah sang inventor ternama bernama Joshua Joyce (Stanley Tucci) yang merasa bisa menciptakan Transformers versinya sendiri yang tanpa cacat, salah satunya adalah Galvatron (Frank Welker), redefinisi ulang dari Optimus Prime yang entah kenapa malah mirip Megatron. Intinya, setelah random chaos di awal-awal cerita, anda akan tahu sendiri plot film ini berjalan kemana, yang penting anda jangan sampai ketiduran saja di bioskop menyaksikan banyak ciri khas Michael Bay berserakan seperti biasa di film yang bujetnya sekitaran 160 juta dollar Amerika ini.

Transfomers Age of ExtinctionTransformers akan tetap menjadi Transformers seperti itu jika masih ditangani oleh Michael Bay, jadi jangan berharap bakal ada perubahan plot maupun konsep yang signifikan terasa di installment keempat ini. Ledakan masih banyak terjadi, random chaos berseliweran dimana-mana, slow motion hug masih menjadi scene andalan serta ciuman dibalik sunset dan tentunya bendera Amerika yang berkibar perkasa di setiap penjuru gedung. Tapi bagi saya pribadi, ada beberapa peningkatan yang cukup berpengaruh dari dua film terdahulunya selain detail para robot yang makin bagus dan makin diperlihatkan.

Transfomers Age of ExtinctionTim Autobots makin kompak karena sekarang hanya terdiri dari lima Autobot saja yang bisa dikenali secara langsung dengan kasat mata, tidak seperti dua film pendahulunya yang mengeluarkan terlalu banyak Autobots yang kadang saya juga tidak ingat mereka itu siapa. Kali ini hanya Optimus Prime dan Bumblebee yang ditemani Drift (Ken Watanabe) yang keren, Crosshair (John DiMaggio) yang keras kepala dan Hound (John Goodman) yang super brutal. Kehadiran karakter antagonisnya pun cukup memuaskan, Lockdown sudah membuktikan bahwa dirinya adalah antagonis yang cukup merepotkan Optimus Prime dkk, serta kehadiran Galvatron alias Megatron ver 2.0 juga bisa membuka jalan untuk sekuel selanjutnya jika memang masih ingin terus dibuat. Selain itu mobil-mobil yang dipamerkan disini juga sudah cukup membuat ‘eyegasm’, rentetan mobil-mobil muscle dan super car yang mempunyai warna ‘eye-candy’ mengembalikan rasa takjub saya seperti menonton Transformers yang pertama. Terakhir, jangan lupakan kemunculan Dinobots yang super keren dan sangat berpengaruh pada plot cerita, bukan hanya sebagai show-off moments saja, tapi benar-benar dipergunakan sebagai senjata pamungkas Michael Bay untuk memuaskan dahaga para penggemar Transformers dimanapun mereka berada.

Transfomers Age of ExtinctionKarakter manusianya pun mengalami pergantian yang cukup lumayan signifikan. Keluarga Witwicky yang terlalu garing akhirnya diganti oleh keluarga Yeager yang cukup serius dan tidak terlalu banyak membacot seperti Sam dan kedua orang tuanya. Walau diawal-awal kehadiran karakter Lucas (T.J. Miller) yang super konyol seperti menandakan bahwa jokes garing itu bakal tetap ada di film ini, tapi tanggapan saya salah, dari paruh tengah sampai akhir, suasana mulai dibawa serius dan walaupun ada lelucon yang diperlukan, itu pun tidak keluar terlalu sering dan rata-rata hanya keluar dari mulutnya Joshua saja yang diperankan cukup apik dan meyakinkan oleh Stanley Tucci. Intinya, kehadiran protagonist baru ini memang terbilang fresh, apalagi karakter ‘America hero’ ala Mark Wahlberg memang tidak bisa dipungkiri lagi keheroikannya, walau memang tidak berpengaruh cukup banyak pada plot ceritanya, at least penampilan keluarga Yeager lebih saya sukai ketimbang keluarga Witwicky yang sudah terlalu membosankan.

Transfomers Age of ExtinctionMungkin itu hampir semua dari beberapa peningkatan yang saya rasakan ketika menonton Transformers: Age of Extinction ini. Soal visualnya jangan ditanya, sinematografi Amir Mokri masih prima dan tidak terlalu membuat sakit mata lagi untuk saat ini karena proses transformasinya tidak terlalu banyak di blow up. Tapi soal battle one by one antara para robot banyak mengalami peningkatan yang drastis daripada dua film pendahulunya yang entah pertarungan para Autobots dan Decepticons dibuat terlalu random. Final battle antara Optimus Prime dan Lockdown cukup memuaskan dan kehadiran keluarga Yeager dalam membantu Optimus Prime mengalahkan Lockdown juga cukup efektif, tidak hanya lari-lari dan teriak-teriak semata tak jelas juntrungannya.

Overall, Transformers: Age of Extinction merupakan seri keempat yang lebih saya nikmati daripada dua seri terdahulunya, lebih fokus, lebih detail dan lebih membuat mata saya tidak cepat lelah. Walau begitu, jangan terlalu banyak berharap dengan peningkatan di departemen story telling-nya, karena sejatinya film seperti ini hanya dibuat untuk memanjakan mata anda dan juga memuaskan dahaga para penggemar Transformers sekalian meraup untung di masa liburan sekolah tengah tahun seperti ini. So, just watch this new battle of Autobots and Lockdown and don’t expect too much. Just sit, enjoy and relax.

Rating: 3.5/5

NB: Sedikit suasana ketika filmnya world premiere di Hong Kong sana, tentu saja dengan penampilan dari Imagine Dragons yang membawakan lagu soundtrack Transformers: Age of Extinction yang berjudul Battle Cry.

3 thoughts on “Transformers: Age of Extinction (2014/US)

  1. Saya setuju bgn om, sebenrnya pas mau nntn ini berharap ada peningkatan storynya, tapi yg gua dpt cuman penghibur mata aja, kalo dri cinematografi mah udah gak perlu dibahas dah :p. Yah overall sih lumayan menghibur lahh.

    Like

  2. Pingback: Bad Asses (2014/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s