Kaddisch für einen Freund (2012/Germany)


Kaddisch für einen FreundZerosumo.net – German Cinema Film Festival kembali hadir di tahun 2014. Seperti biasa saya pun ikut meramaikan festival film yang memutar banyak film Jerman berkualitas itu, terhitung tiga hari festival film ini berlangsung di Bandung, jadi saya menyempatkan menonton film yang diputar disini sebanyak-banyaknya. Film pertama yang saya tonton adalah film drama keluarga yang mengetengahkan konflik multikultur di dalamnya, berjudul Kaddisch für einen Freund. Ya, film yang naskahnya ditulis dan disutradarai oleh Leo Khasin ini menceritakan tentang dinamika keluarga Arab yang baru saja pindah ke Berlin dan mendapati mereka tinggal seatap dengan seorang Yahudi.

Ali (Neil Belakhdar) dan keluarganya baru pindah ke komplek apartemen di Berlin sampai ia menyadari bahwa tetangga di lantai atas adalah seorang lansia yang hidup sendiri. Masalahnya lansia bernama Zamskoy (Ryszard Ronczewski) itu merupakan seorang veteran tentara Yahudi, dan seperti yang kita tahu sentimen dua suku bangsa ini memang bagai air dan minyak, susah untuk bersatu karena sejarah dan keadaannya sampai sekarang.

Kaddisch für einen FreundHingga suatu saat karena hasutan teman-teman Ali yang pecicilan, Ali dkk malah merusak apartemen Zamskoy yang sederhana itu. Malang, Ali tertangkap tangan dan harus menerima konsekuensi untuk dideportasi dari Jerman bersama keluarganya. Melihat hal tersebut, ibu Ali inisiatif untuk menyuruh Ali meminta maaf kepada Zamskoy dengan cara merapihkan dan membetulkan apartemennya yang rusak karena ulah teman-temannya itu.

Kaddisch für einen FreundTanpa disangka kebencian Ali kepada Zamskoy karena masalah ideologi itu berangsur-angsur hilang karena yang namanya hubungan manusia dalam kehidupan itu ada naik turunnya. Makin lama Ali makin sadar bahwa Zamskoy juga hanyalah seorang kakek tua biasa yang berusaha untuk menikmati sisa hidupnya dengan damai, sama halnya dengan Zamskoy yang berusaha untuk menolong Ali dan keluarganya agar tidak dideportasi karena ia sadar bahwa Ali sebenarnya adalah anak yang baik hati.

Kaddisch für einen FreundLewat Kaddisch für einen Freund kita akan melihat bahwa yang namanya pertikaian itu tidak akan ada artinya kalau kita menghargai satu sama lain dengan baik. Suku bangsa atau ideologi hanyalah label semata jika kita ingin melihat sesuatu itu dari perspektif yang lebih sempit. Leo Khasin membawa masalah multikultur ini ke ruang lingkup yang lebih sederhana sekaligus membuktikan jika semua pertikaian dan pertentangan itu selalu datang dari hal-hal kecil, jadi apa salahnya kalau kita juga memulai sesuatu yang positif dari hal-hal kecil, seperti saling menghormati dan menghargai.

Film Kaddisch für einen Freund memang film yang istilahnya ‘feel good movie’, walau ditutup dengan ending yang sangat predictable, tapi pesan yang ingin disampaikan oleh sang filmmaker sudah tersampaikan dengan sangat bagus. Lewat build up story yang mengalir dari awal hingga akhir, sekali lagi, kita bisa melihat bahwa yang namanya perbedaan itu tidaklah selalu buruk, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Klimaks film ini menegaskan bahwa Ali dan keluarga serta Zamskoy menyadari bahwa apalah itu perbedaan kalau kita bisa saling menghargai dan hidup berdampingan dengan damai. Sebagai film debutan Leo Khasin, Kaddisch für einen Freund cukup oke untuk ditonton. Buktikan saja sendiri. Gut!

Rating: 3/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s