Home for the Weekend (2012/Germany)


Was bleibtZerosumo.net – Film kedua yang saya tonton di hari terakhir German Cinema Film Festival merupakan film yang cukup depresif. Judulnya adalah Was Bleibt atau dikenal dengan judul bahasa Inggrisnya Home for the Weekend. Menceritakan sebuah acara kumpul keluarga sederhana di akhir pekan yang malah berakhir pilu dan membuat perubahan besar bagi para anggota keluarganya. Film berdurasi 88 menit ini sempat menjadi nominasi untuk kategori Golden Berlin Bear di Berlin International Film Festival tahun 2012 lalu. Sebagai sebuah film drama keluarga, dapat dikatakan Was Bleibt merupakan representasi general dari film-film drama Eropa pada umumnya, terasa sekali perbedaannya jika dibandingkan dengan film-film bertema sama yang berasal dari Amerika.

Cerita film Was Bleibt pada awalnya memperkenalkan seorang pria bernama Marko (Lars Eidinger) yang berencana untuk berkumpul bersama keluarganya di akhir pekan yang terdiri dari sang ayah, Günter (Ernst Stötzner), sang ibu, Gitte (Gitte Heidtmann), dan sang adik, Jakob (Sebastian Zimmler) beserta kekasihnya. Marko sendiri ditemani putra satu-satunya yang masih bocah, Zowie (Egon Merten). Tapi ternyata acara kumpul keluarga santai tersebut malah menimbulkan banyak masalah dan konflik baru yang terjadi diantara mereka, salah satunya adalah pengakuan sang ibu yang sudah berhenti mengkonsumsi obat untuk penyakit yang dideritanya serta kesulitan finansial yang sedang dialami Jakob.

Was bleibtAcara kumpul keluarga santai tersebut makin menambah problematika yang terjadi dalam kehidupan Marko yang sekarang berstatus single parent. Apalagi konflik mulai muncul ketika sang ibu hilang entah kemana. Momen tersebut membuat mereka saling menyalahkan sampai menimbulkan masalah baru yang selama ini tidak diketahui Marko dan Jakob. Kesimpulannya, perjalanan anda tidak akan menyenangkan jika menonton film yang digarap dengan gaya yang sangat Eropa ‘banget’ dan mempunyai pace lambat nan depresif ini.

Was bleibtHans-Christian Schmid menggarap film ini dengan sangat detail dan minimalis. Kekuatan Was Bleibt ada pada performa para aktor dan aktrisnya yang harus diacungi jempol. Interaksi yang diciptakan para karakter sentralnya sangat membantu membuat alur cerita Was Bleibt makin hidup dan makin realistis. Apalagi ketika film ini ditutup dengan klimaks yang mungkin bisa membuat anda berkata “what the fuck?”, “That’s it?” Ya, walau di build up dengan sangat lambat dan mungkin tidak cocok dengan selera penggemar film kebanyakan, Was Bleibt tetap setia menyajikan sebuah film drama yang sangat kental sekali nuansa Eropanya. sedih tapi itulah hidup. Just be realistic.

Was bleibtAkhir kata, Was Bleibt mungkin bukan film drama untuk semua orang, tapi jelas film ini mempunyai daya tarik dan momen-momen transedentalnya tersendiri. Saya sebagai penonton malah tak pernah menyadari bahwa saat-saat yang biasa bagi Marko dan Jakob adalah saat-saat terakhir mereka melihat ibu mereka sendiri sebelum hilang entah kemana. Ya, seperti menyiratkan pesan tersendiri bahwa seburuk-buruknya keluarga, mereka tetaplah keluarga kita baik kita sedang ‘dibawah’ atau sedang ‘diatas’, jadi hargailah waktu selagi bersama mereka. Well, salah satu film terdepresif dari semua film yang sempat saya tonton di German Cinema Film Festival kemarin. Buktikan saja sendiri.

Rating: 3/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s