Senyap/The Look of Silence (2014/Denmark)


The Look of SilenceZerosumo.net – Rilis tanggal 10 Desember 2014 kemarin untuk memperingati hari hak asasi manusia sedunia, The Look of Silence alias Senyap sekali lagi berhasil menjadi film dokumenter yang membungkan semua kesunyian sejarah kelam bangsa Indonesia yang sudah terkubur hampir lima dekade lamanya. Kalau anda familiar dengan film dokumenter The Act of Killing alias Jagal yang masuk nominasi Oscar tahun 2014 anda harus segera menonton Senyap. Masih disutradarai oleh Joshua Oppenheimer, film dokumenter Senyap masih membahas tentang pembantaian yang dilakukan oleh organisasi massa kepada warga Indonesia yang dituding sebagai anggota PKI tahun 60-an lalu, tapi kali ini sineas kelahiran Amerika tahun 1974 itu menyorot kejadian pembantaian tersebut bukan dari sudut pandang pelaku, melainkan dari sudut pandang keluarga korban.

Kalau anda masih ingat dengan betapa disturbing-nya Jagal tahun lalu, mungkin Senyap akan membuat anda terhenyak diam melihat semua kesadisan yang masih digambarkan oleh para pelaku-pelakunya yang masih hidup di hadapan Adi, sang pria penjual keliling kacamata yang kakaknya pernah diseret dan dibunuh oleh para algojo organisasi massa pada tahun 60-an di Sungai Ular daerah Deli Serdang, Sumatera Utara. Senyap lebih minimalis dan tidak berusaha untuk menjadi dokumenter surealis ala Jagal yang tetap bisa memberikan pesan yang cukup disturbing kepada para penontonnya. Lewat Senyap, Joshua mengajak Adi untuk “berjalan-jalan” menemui para pelaku yang secara tidak langsung membunuh kakaknya, Ramli pada waktu kejadian pembantaian PKI terjadi.

The Look of SilenceSatu persatu pelaku yang berpartisipasi pada kejadian pembantaian tersebut ditemui, ada yang masih sehat, ada yang sudah tua, ada yang sudah tidak berdaya, ada yang masih berkuasa dan bahkan ada yang masih menjadi bagian dari keluarga Adi sendiri, ironis. Tapi lewat tatapan Adi yang “dingin”, Joshua makin mempertegas judul film dokumenter berdurasi 90 menit ini. Senyap, sunyi bahkan dingin, entah apa yang Adi rasakan ketika melihat semua footage-footage yang dirangkum oleh Joshua selama bertahun-tahun tentang kebiadaban para pelaku pembantaian yang terjadi dulu sampai akhirnya mengerucut kepada para pelaku yang bertanggung jawab baik langsung maupun tidak langsung pada kematian Ramli. Mengejutkannya adalah salah satu dari pelaku yang dulu menjabat komandan aksi itu masih ingat dengan nama Ramli dan bagaimana cara untuk membunuhnya dulu sebelum dilempar ke Sungai Ular yang menjadi saksi bisu selama berpuluh-puluh tahun itu.

The Look of SilenceSecara garis besar, Senyap milik Joshua Oppenheimer ini lebih straight forward dan lebih fokus dengan skup isu yang diangkatnya. Sudut pandang Adi yang diperlihatkan selama film dokumenter berjalan malahan bisa membuat imajinasi para penontonnya lebih ‘liar’ daripada Adi yang sama-sama tidak pernah menyaksikan bagaimana kakaknya dibunuh. Sama halnya dengan para pelaku yang masih merasa menjadi pahlawan karena telah berhasil menindak semua anggota PKI dengan kejamnya dahulu, komentar mereka tentang ‘meminum darah korban agar tidak menjadi gila’ mungkin adalah efek kebalikan dari semua peristiwa yang telah mereka lalui, siapa yang gila sekarang? Tapi momen paling straight forward dan mungkin paling ‘haunting’ bagi saya pribadi adalah ketika Adi mengunjungi keluarga salah satu pelaku yang bertanggung jawab langsung dengan kematian Ramli.

The Look of SilenceKunjungan terakhir Adi sebelum film dokumenter ini berakhir cukup menyayat hati saya, karena sang pelaku sudah meninggal dan Adi berbicara langsung dengan istri dan anak si pelaku yang dulu memang tidak tahu tindakan kejam yang pernah dilakukan suami dan ayah mereka tersebut. Terasa salah bagi saya melihat situasi tersebut, memang memilukan bagi dua belah pihak, dimana masing-masing merasakan bahwa apa yang mereka tahu itu tidak sepenuhnya benar, melihat tatapan Adi yang dingin dan melihat reaksi para anak pelaku yang sudah dewasa dan sang istri pelaku yang sudah sakit-sakitan menjadikan kunjungan tersebut makin emosional. Saya sendiri tidak bisa berkata apa-apa, karena kalau ingin bilang ‘let it be’ pun, masalah seperti ini akan selalu menjadi memori kelam bagi siapapun yang pernah terlibat atau mengalaminya. It’s so sad, really.

Mungkin Senyap menjadi episode terakhir dari misi Joshua Oppenheimer untuk membongkar masa lalu kelam bangsa Indonesia yang selama ini hanya segelintir orang saja yang tahu. Mungkin film dokumenter ini juga menjadi episode terakhir Adi untuk mencari kebenaran atas kematian kakaknya dan juga saya berharap peristiwa tersebut bisa menjadi ‘closure’ terakhir untuk Adi dan juga untuk jutaan keluarga korban yang pernah mengalami hal serupa. Film Senyap tayang terbatas dan minggu ini sedang ada roadshow pemutaran film—yang mengantongi penghargaan Grand Special Jury Prize di ajang Venice Film Festival tahun 2014—di kota-kota besar Indonesia. Kalau kebetulan film ini mampir ke kota anda, saya sangat merekomendasikan untuk menonton film Senyap, apalagi bagi yang sudah pernah menonton Jagal, mungkin Senyap juga bisa menjadi ‘closure’ terakhir bagi anda yang penasaran dengan sejarah bangsa kita yang kelam.

Rating: 4/5

NB: Jadwal road show film Senyap bisa anda pantau DISINI. Jangan sampai dilewatkan!

One thought on “Senyap/The Look of Silence (2014/Denmark)

  1. Pingback: My Favorite Indonesian Movies (And Not So Favorite) of 2014 | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s