Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh (2014/Indonesia)


Supernova Ksatria, Putri & Bintang JatuhZerosumo.net – Meledak-ledak adalah gambaran yang tepat untuk disematkan pada film Indonesia terbaru yang saya tonton minggu kemarin, yaitu Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh. Film Supernova ini diangkat dari novel fiksi mega best seller karya Dee Lestari yang sampai sekarang sudah banyak menulis novel-novel yang digemari oleh masyarakat luas Indonesia. Kalau saya sendiri bukan pembaca novelnya, tapi saya penasaran dengan film yang trailernya cukup bombastis tersebut, dengan durasi lima menit dan scoring musik yang meledak-ledak, serta komentar para pemainnya yang mengatakan bahwa film Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh adalah film yang mengajak penontonnya untuk berpikir saya jadi makin tertarik dan penasaran ada apa gerangan dengan film yang diangkat dari bukunya yang belum pernah saya baca sekalipun itu. Bagi para penggemar Dee Lestari yang biasa disebut ‘Truedee’ kalau tidak sengaja mampir ke blog ini dan membaca review saya soal Supernova jangan naik pitam dulu ya, karena mungkin banyak yang saya keluhkan dari film terbaru keluaran Soraya Intercine Films itu. Lalu jangan juga men-judge saya dengan argumen “makanya baca bukunya dulu”, karena sudah jutaan kali saya bilang kalau buku dan film itu medium yang berbeda serta tujuannya pun untuk golongan yang lebih luas, jadi bijaknya adalah jangan pernah kaitkan dua medium tersebut, buku adalah buku dan film adalah film.

Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh ini memulai cerita layaknya Stranger Than Fiction. Kisah film ini dimulai dari pertemuan dua orang bernama Reuben (Arifin Putra) dan Dimas (Hamish Daud) yang mempunyai hubungan ‘romantis’ dan akhirnya mereka berikrar untuk membuat karya spektakuler tentang roman dan sains dalam bentuk cerita fiksi. Tapi ternyata cerita fiksi mereka berjalan pararel dengan kejadian nyata yang juga terjadi seperti cerita Reuben dan Dimas tentang cinta segitiga. Maka setelah itu kita akan berkenalan dengan para karakter utamanya, yaitu Ferre (Herjunot Ali), pengusaha muda sukses dan tampan, Rana (Raline Shah), wakil pemred sebuah majalah yang sukses dan cantik serta Arwin (Fedi Nuril), suami Rana yang juga sukses dan juga tampan tapi mungkin kalah sukses dari Ferre. Intinya, cerita Reuben dan Dimas serta Ferre, Rana dan Arwin dihubungkan dengan benang merah lain, yaitu Supernova, sebuah avatar digital atau bahasa kerennya akun digital yang bisa menjawab semua pertanyaan para follower-nya yang sedang dilanda kegelisahan tentang apa itu arti hidup dan dunia yang luas ini.

Supernova Ksatria, Putri & Bintang JatuhSeperti yang saya bilang, saya tidak pernah membaca novel Dee Lestari, tapi teman-teman saya banyak yang membacanya dan cukup skeptis ketika tahu Supernova akan dibuat menjadi film dikarenakan gaya bahasa Dee dalam bukunya terlalu ‘advanced’ untuk jadi sebuah rentetan dialog dalam film. Hal tersebut harus saya amini, jika ada buku yang tidak bisa dijadikan film, mungkin salah satunya adalah Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh ini karena bagaimanapun Rizal Mantovani bukanlah David Fincher yang mungkin bisa mengadaptasi sebuah buku yang tidak bisa difilmkan jadi sebuah tontonan yang bisa dipahami masyarakat luas yang bahkan tidak pernah membaca bukunya. Selain tone-nya yang serba meledak-ledak, dari mulai scoringnya yang non stop menendang gendang telinga saya serta show-off establishing shot yang mungkin mencapai belasan dan entah kenapa terus-terusan dieksploitasi (Ya, saya tahu film ini mahal) Supernova ini makin meledak-ledak dengan di-attach-nya subtitle bahasa Inggris yang membuat layar bioskop makin penuh tulisan karena mayoritas yang terjadi di film ini 90% adalah dialog dan narasi yang sontak membuat mata saya hampir meledak-ledak.

Supernova Ksatria, Putri & Bintang JatuhTapi ya itulah salah tiga dari beberapa hal teknis yang nampaknya tidak menjadi pelajaran sineas yang sudah malang melintang di dunia perfilman Indonesia itu. Visualnya memang oke dan sangat watchable sekali di bioskop, tapi entah kenapa semenjak 5 cm yang pernah saya bahas (dan kemudian saya di-bully oleh para penggemar buku novelnya yang sok benar) untuk teknis detail lainnya, Supernova tak jauh beda, masih terlalu ‘over-loud’ dalam penggunaan scoring (ENOUGH of Nidji!) sehingga menambah berat beban imajinasi saya ketika harus menonton film berdurasi dua setengah jam ini dengan ada tempelan subtitle bahasa Inggris di dalamnya. Why the heck?!

Supernova Ksatria, Putri & Bintang JatuhLalu bagaimana dengan plotnya sendiri? Inilah yang menjadi pertanyaan besar bagi saya dan mungkin untuk orang lain yang belum pernah membaca bukunya. Apakah ini yang dimaksud Herjunot Ali ketika diwawancara kalau film Supernova itu adalah film yang mengajak penontonnya untuk ‘berpikir’? Saya malah berpikir keras tentang dialog-dialognya yang terlalu bahasa buku sekali, yang entah kenapa makin banyaknya mereka berbicara bifurkasi, turbulensi, badai serotonin dll membuat saya makin ingin menggaruk-garuk kepala. Intinya esensi dari bahasa-bahasa ilmiah yang mungkin memang menjadi ciri khas Dee Lestari dalam menulis karya roman saintifik, kompleks tapi tetap mengena bagi para pembacanya tidak berhasil membuat saya jadi ikut menikmati dengan adanya film ini. Apalagi ketika saya harus struggle dengan segala dialog dan narasi dalam hati yang mungkin pacenya terlalu cepat entah karena ingin memasukan semua poin penting yang ada di bukunya dalam durasi sebegitu sempitnya atau entah kenapa. Secara gambaran besarnya saya masih mengerti konflik yang terjadi dalam Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh tapi secara ideologi yang ingin disampaikan lewat film ini saya masih tidak bisa menikmati dan memahaminya.

Supernova Ksatria, Putri & Bintang JatuhSaya merasa Sunil Soraya yang menulis skripnya berusaha mencoba menghasilkan sesuatu yang terlihat ‘grande’ dikombinasikan dengan gaya penyutradaraan Rizal Mantovani yang meledak-ledak sedari awal. Entah kenapa trailernya lebih make sense bagi saya daripada filmnya sendiri yang mungkin hanya membuat saya berkata “udah, itu aja?” Sekali lagi, saya tidak pernah membaca bukunya, dan saya menilai Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh ini murni lewat filmnya saja, mungkin rasa skeptis teman-teman saya yang pernah membaca bukunya beralasan juga, Supernova mungkin bukan sesuatu yang ‘enak’ untuk difilmkan, tidak mengajak penonton berpikir tapi lebih membuat saya capek karena harus melewati serangkaian momen-momen yang menurut mereka “wah” dan epik hanya untuk berbicara cinta di akhir. Lalu bagaimana dengan penampilan para aktor dan aktrisnya disini? Sekali lagi, karena saya tidak pernah membaca bukunya jadi saya tidak akan bisa menilai apakah kehadiran Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Paula Verhoeven, Arifin Putra, Hamish Daud dll itu tepat atau tidak. Tapi sebagai karakter sentral, Herjunot Ali cukup memberikan penampilan yang meyakinkan walau hanya sebatas itu saja, sementara yang lainnya doing fine for me, apalagi Fedi Nuril yang menurut saya sendiri karakternya tidak begitu berkembang selama film ini berjalan, sedangkan Paula Verhoeven yang katanya model internasional itu sudah cukup nampil dengan kakinya yang jenjang, aktingnya sendiri tidak terlalu spesial. Malahan saya lebih tertarik dengan pasangan gay ala Arifin Putra dan Hamish Daud yang sepanjang film mungkin masih terkena efek badai serotonin karena berusaha untuk mengerti what the heck are they writing, ha-ha.

Supernova Ksatria, Putri & Bintang JatuhSebagai sebuah sajian hiburan bagi penonton awam saya tidak terlalu puas dengan Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh ini, mungkin trailernya yang panjang itu yang sudah membuat saya berekspektasi macam-macam, tapi setelah menonton filmnya, tidak ada sesuatu yang memicu otak saya untuk berpikir selain mencari kamus besar dan mencari arti kata bifurkasi. Sama halnya dengan 5 cm, secara visual film Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh cukup outstanding tapi entah kenapa establishing shot dan scoring yang meledak-ledak membuat film ini terasa berlebihan saja bagi saya untuk menyampaikan pesannya yang tidak jauh-jauh dari yang namanya cinta segitiga, eksistensi diri dll. Akhir kata, Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh itu tetap film yang cukup oke dari beberapa segi tapi entah kenapa tidak memuaskan dan tidak membuat saya merasakan ‘order dan chaos’ dalam waktu bersamaan ketika menonton filmnya yang panjang itu, sepanjang jumlah halaman review saya sekarang. Well, mungkin pembaca bukunya akan lebih relate, tapi saya sendiri, maaf saja, kurang puas kalau ingin dibilang sebagai film yang mengajak orang untuk berpikir. Silakan tonton saja, enjoy!

Rating: 3/5

17 thoughts on “Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh (2014/Indonesia)

  1. Pingback: Exodus: Gods and Kings (2014/US) | zerosumo

  2. Saya sih sependapat dengan anda. Masih belum ngerti maksud dan alur cerita film ini dan subtitle yang memang mengganggu menonton banget. Gak ngerti kenapa ferre akhirnya seperti itu😐

    Like

  3. Kemarin 19122014 Saya baru nonton tuh filem… Dan sampai hr ini Saya msh bingung mencari content dan benang merah dr filem SUPERNOVA…

    Entah apa GOAL dr Produser dan Penulis Cerita untuk mengangkat Novel tersebut ke ranah Visual..karena secara pembacaan orang awam seperti Saya ketika nonton Filem di Bioskop berharap mendapatkan hiburan dan pesan sekalipun tdk tersampaikan secara jelas paling tidak Benang Merah dan maksud tujuan dr Filem tersebut bisa ditangkap… Namun tidak dngn Filem Supernova…

    Visualisasi dalam Novel akan mudah untuk ditangkap karena penyajian ke pembaca bisa dilakukan secara berulang ketika Kita belum menemukan jawaban dr makna tiap tulisanya dalam setiap BAB…pun itu tidak berlaku dalam konteks Audio Visual…..

    Like

    • GOAL-nya mungkin hanya ingin mengeruk keuntungan dari karya sastra populer aja mas, hehe. Emang itu jadi masalah utama, pesannya jadi gak sampe buat penonton awam kayak anda sama saya sekalipun, makanya saya gak puas sama film ini.

      Bahasanya terlalu buku banget dan keliatannya si scriptwriter gak bisa ngolah bukunya jadi skrip yang menarik dan masuk buat orang awam. Ya itu dia tantangan bikin film adaptasi buku itu harus bisa memuaskan dua golongan, golongan yang baca bukunya sama golongan yang gak baca bukunya sekaligus.

      Intinya saya setuju sama keluhan mas Ranu, karena saya pun merasakan hal demikian, haha😀

      Like

  4. Pingback: Pendekar Tongkat Emas (2014/Indonesia) | zerosumo

  5. akhirnya saya menemukan tulisan tentang film Supernova yang 100% saya sependapat :))

    saya belum baca novelnya, tapi bukan berarti saya jadi enggak boleh menikmati filmnya toh? nah di film ini, ekspektasi saya ketinggian gara2 trailer super mahal yg disuguhkan serta rekomendasi selebtwit2 yg saya temukan di timeline twitter. tapi setelah saya nonton filmnya, saya kecewaaaaa hahahahahaha.

    pengemasan visual efek dll nya memang untuk ukuran film lokal udah termasuk keren lah menurut saya pribadi. cuma inti ceritanya saya gagal paham mas hahahaha. kan konyol kalo saya nanya ke org yg ngerti malah dijawab “makanya baca dulu novelnya” lho itu kan medium yg berbeda :))

    bahasa yg berat dalam dialog sih sah-sah aja asalkan disertai penjelasan yg bisa dicerna org awam dengan kapasitas IQ melati seperti saya. jujur aja, saya jauh lebih menikmati film interstellar, transcendence, lucy, inception, atau film2 mikir lainnya. kalo yg satu ini dari awal sampe akhir saya enggak ngerti. ini cuma drama cinta segitiga kan? knpa harus berbelit2 bgini sih saya pikir hahahahahaha. jadi curhat ya mas. terus saya agak heran sama tokoh reuben sama siapa tuh satu lagi pasangannya? mereka pasangan homoseksual kan, tapi sepertinya enggak ada pengaruhnya soal ke-homoseksualan mereka :)) jadi enggak ada gregetnya gitulho. saya kira dgn mereka itu sbgai pasangan homo, maka ada kaitan benang merah sama cerita, tp trnyata enggak ada, apa saya yg enggak nangkep? mudah2an memang saya yg salah hahahaha.

    anyway, saya suka sama tulisan2nya mas, langsung saya follow nih hehehe, dari pagi sampe skrg masih belum beranjak mantengan review2nya hehehehe, salam

    Like

    • Hahaha, welcome to the club mas😀 inilah yang menjadi polemik di industri film indonesia, maen adaptasi aja novel terkenal tanpa tahu gimana cara bikin filmnya buat bisa dinikmati semua kalangan. Yah namanya juga cari duit emang, tapi jangan ampe bikin konsumen kesel juga kan yah? haha.

      Saya juga gak ngerti kenapa jadi berbelit belit dan memang karakter reuben dan dimas itu kalo kata yang baca novelnya sih harusnya porsinya lebih banyak juga, bahkan temen saya yang suka novelnya juga kecewa sama ini film, karena emang timpang atau entah sunil dkk tidak bisa bikin script yang diadaptasi dari novel serumit dee lestari ini. Benang merahnya cuma satu, Reuben dan Dimas itu ada di satu universe yang sama dengan tiga karakter yang sedang mereka bikin ceritanya kayak film Stranger Than Fiction, udah itu aja sih kalo based dari filmnya, hehe.

      Well, thanks apresiasinya, semoga betah mengunjungi blog review film alakadarnya inih, hehe. kalo ada yang kurang sreg atau sekedar beradu argumen soal film yang saya review jangan sungkan sungkan lho, karena bagi saya review film akan lebih bermakna kalau setelahnya kita bisa berdiskusi, hehe😀

      Like

  6. Pingback: My Favorite Indonesian Movies (And Not So Favorite) of 2014 | zerosumo

  7. HAHAHA sambil ketawa ketawa juga baca review ini, karna kenyataannya emang bener sih. Bahasanya terlalu susah dimengerti buat penonton yang belom pernah sama sekali baca novel ini.

    Like

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s