The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014/US)


The Hobbit The Battle of the Five ArmiesZerosumo.net – Tahun 2014 hampir berakhir, dan di penghujung tahun ini juga saya menyaksikan akhir dari perjalanan Bilbo Baggins (Martin Freeman) di The Hobbit: The Battle of the Five Armies. Setelah An Unexpected Journey dan The Desolation of Smaug yang sangat ngegantung bangsat, butuh satu tahun bagi saya untuk tahu bagaimana cara Bard (Luke Evans) menembakkan panah menembus dada si naga rakus Smaug (Benedict Cumberbatch). Akhirnya terjawab sudah hanya dengan durasi tidak lebih dari dua puluh menitan. Agak ‘kentang’ juga sebenarnya saya, karena menonton The Battle of the Five Armies yang dibuka dengan adegan bagaimana akhirnya Bard membunuh Smaug itu malah makin mengingatkan kalau memang The Hobbit ini sebenarnya cukup dua film saja.

Saya tidak bisa menyalahkan para petinggi yang bertanggung jawab disana—yang mungkin sama rakusnya dengan Smaug dan Thorin (Richard Armitage) yang mulai kesurupan emas—karena harus membagi film The Hobbit menjadi tiga bagian. Di satu sisi, The Battle of the Five Armies tetap menjadi film penutup yang seru, tapi sayangnya ekspektasi keepikan perang antar manusia, dwarf, elf dan orc masih kurang epik jika dibandingkan dengan final act The Return of the King yang spektakuler itu. Lalu tanpa mengesampingkan Bilbo Baggins yang menjadi karakter sentral di The Hobbit, sesuai dengan judulnya, The Battle of the Five Armies lebih menekankan pada pertempuran antar ras yang terjadi di mulut gunung Erebor, jadi jangan harap anda akan menyaksikan hal lain yang biasa dilakukan Bilbo di dua film sebelumnya, sekarang semua sudah mode serius.

The Hobbit The Battle of the Five ArmiesTidak lupa kegilaan Thorin akan penyakit naga rakus Smaug menjadi hal yang cukup membuat saya emosi layaknya saya melihat Smeagol. Episode kesurupannya Thorin menambah alur cerita lumayan intens sebelum perang dimulai, tapi justru setelah itu, perang pun berlangsung cukup ramai sekitar puluhan menit sampai akhirnya ditutup dengan duel maut Thorin versus Azog (Manu Bennett) yang cukup asyik. Tapi ada satu duel yang menurut saya terlalu dibuat ‘ramai’ oleh Peter Jackson, seperti duel antara Legolas (Orlando Bloom) dan satu orc yang cukup tangguh, kita semua tahu adegan ini sebenarnya pointless pada alur cerita keseluruhan because Legolas will fight for another day with Aragorn cs.

The Hobbit The Battle of the Five ArmiesKeberadaan Legolas dan Tauriel (Evangeline Lilly) memang makin mengukuhkan kalau Peter Jackson sebenarnya hanya ingin membuat film terakhir ini makin ‘ramai’ saja untuk disaksikan, dan makin mengingatkan saya lagi kalau sebenarnya The Hobbit ini memang idealnya cukup dua film saja karena perang yang terjadi di The Battle of the Five Armies hanya terjadi sekali dari mulai berkumpulnya para pasukan antar ras di mulut gunung Erebor sampai terbunuhnya Azog serta datangnya para elang, tidak berlapis-lapis layaknya The Return of the King. Setelah itu Bilbo pulang kampung dan THE END. Itulah yang membuat The Battle of the Five Armies mungkin masih ‘kalah’ dengan The Return of the King yang mempunyai banyak momen epik dan superior dari mulai perang bersama pasukan hantu sampai perang di depan gerbang Mordor, jadi tidak terasa seperti satu perang yang dipanjang-panjangkan. Sementara The Battle of the Five Armies ini terlihat sekali seperti perang yang dipanjang-panjangkan apalagi adegan Kili (Aidan Turner) yang bertarung demi Tauriel serasa terlihat ‘berlebihan’.

The Hobbit The Battle of the Five ArmiesMeskipun begitu saya tetap menikmati The Hobbit: The Battle of the Five Armies. Saya masih menikmati momen-momen keren Bard ketika membunuh Smaug walau hanya ‘sekilas’, momen Thranduil (Lee Pace) yang berperang dengan para pasukan perinya yang keren, momen kegalauan Gandalf (Ian McKellen) di Dol Gundur sampai akhirnya diselamatkan oleh Elrond (Hugo Weaving) dan Saruman (Christopher Lee) dengan cara yang keren dan diakhiri dengan mantra Galadriel (Cate Blanchett) yang mengerikan, dan beberapa momen seru lainnya yang terjadi. Walau sekali lagi, saya tidak pernah ingat dengan para dwarf yang ada di The Hobbit, saya hanya ingat Thorin, Fili (Dean O’Gorman) dan Kili, Bofur (James Nesbitt) dan Bifur (William Kircher) sisanya entah siapa selain Bilbo, Gandalf dan Bard. Ya, makin epik peperangan yang terjadi, makin sedikit juga peran mereka tersorot. Semoga saja ketika nanti Peter Jackson merilis versi extended cut yang katanya ada tambahan durasi 30 menit akan lebih memuaskan saya, apalagi Bilbo Baggins yang katanya lebih ‘terasa’ menjadi karakter sentral daripada versi theatrical cut yang kita saksikan di bioskop-bioskop dimana ia pada akhirnya pingsan di penghujung peperangan, ha-ha.

So, diluar semua kekurangan dan kelebihan, The Hobbit: The Battle of the Five Armies tetap menjadi sebuah sajian seru yang bisa membuat mata anda melek terus sampai akhir film. Dengan durasi sekitar 144 menit, dan lebih dari separuh durasi tersebut diisi oleh peperangan antar ras di Middle Earth, saya pikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk say goodbye kepada Middle Earth. Mungkin tidak se-menegangkan dan se-epik The Return of the King yang benar-benar super klimaks, tapi sebagai sebuah penutup, The Hobbit: The Battle of the Five Armies tetap layak menjadi tontonan di penghujung akhir tahun 2014 yang tak terasa lama ini, he-he. So long, Middle Earth.

Rating: 4/5

NB: The last song for Middle Earth by Billy Boyd.

3 thoughts on “The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014/US)

  1. Wah, seems like i’m the first person who commented on this hehe. Setelah nonton The Hobbit, saya gatal mau buru-buru komen di sini. Hehe. I give 8 of 10 for this movie, 8,8 juga boleh lah. Saya suka keseluruhan penyajiannya. Dari awal nonton sampai akhir film, saya gak terdistraksi apa-apa, keep focusing for every detail that Peter Jackson gave for eyegasm! Senang rasanya bisa nonton film epik ini setelah kemarin dikecewakan oleh Mockingjay Part 1 (masih aja dibahas haha). Ohiya, scene Legolas yang berantem sama salah satu Orc memang terlihat pointless, but it makes my heart pumping and went like “oh sh*t he’s not gonna make it”, khawatir banget deh pokoknya haha. Saya pun suka pembentukan karakter Thorin Oakenshield, sisi manusiawinya yang sentimentil membuat karakter tersebut jadi lebih hidup. Bahkan saya suka karakter Alfrid! Dia adalah karakter manusia yang sebenernya akrab banget di kehidupan kita kan? Licik dan munafiknya ‘dapet’ banget haha ya walaupun emang annoying banget… And I agree with you soal scene Tauriel dan Kili, sebenernya gak penting-penting banget, malah too cheesy buat saya. But overall, hats off for Peter Jackson untuk film ketiga trilogi The Hobbit ini!! Yay!

    Like

    • The Mockingjay Part 1 emang patut dibahas karena keboringannya itu sih :)) Tapi ya sudahlah, no match kalo dibandingkan sama The Battle of the Five Armies ini. At least walau singkat, tapi film pamungkasnya ini cukup padat dan hampir all action semuanya.

      Ya, Thorin di film ketiga ini dari dibenci jadi dicintai, emang oke sih doski, duel lawan Azog-nya pun oke. Dan Alfrid itu emang kayak karakter sampingan yang nothing tapi efeknya lumayan bikin kita pengen teriak “kenapa gak dibunuh aja tuh manusia useless” hahaha…

      Yap, sampai jumpa lagi di middle earth~ Kapan-kapan, sukur-sukur bisa liburan beneran ke New Zealand, haha…

      Like

  2. Pingback: My 15 Favorite Movies of 2014 (That I’ve Seen in Movie Theater) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s