Birdman (2014/US)


BirdmanZerosumo.netBirdman termasuk salah satu film yang sama-sama banyak diperbincangkan tahun kemarin seperti Whiplash. Maka dari itu, setelah filmnya rilis di lapak Torrent terdekat, saya tak tunggu lama untuk segera menonton film terbaru arahan sutradara yang namanya sangat eksotis, yaitu Alejandro González Iñárritu. Setelah saya menonton Birdman, harus diakui, film yang dibintangi Michael Keaton ini merupakan salah satu film terbaik tahun 2014 dan mungkin bisa jadi kontender paling berat untuk nominasi Best Picture di ajang Academy Awards yang akan akan bergulir tanggal 22 Februari besok.

Banyak sekali pencapaian luar biasa yang berhasil dibukukan oleh Birdman, salah satunya pencapaian dalam teknik sinematografi yang luar biasa cantik. Berkat Emmanuel Lubezki yang tahun kemarin sempat menyabet penghargaan Best Achievement in Cinematography lewat film Gravity, sangat mungkin pria yang lahir di Meksiko ini akan menyabet penghargaan serupa untuk film Birdman. Karena kalau anda sudah menonton film Birdman, daya tarik utama ada pada sinematografi ‘gila’ yang mengandalkan one long take yang mulus selama dua jam durasinya.

BirdmanMemang tidak sepenuhnya one long take, kalau anda pernah menonton film klasik karya Alfred Hitchcock yang berjudul Rope, kurang lebih Birdman mengaplikasikan resep yang sama, semua adegan disyut one long take tapi beberapa transisi dari satu adegan ke adegan lainnya di edit dengan mulus sehingga penonton pun tidak menyadari kalau sebenarnya film ini tidak disyut one long take selama dua jam penuh. Tidak heran para cast and crew-nya sampai menghabiskan waktu dua bulan untuk latihan adegan tiap adegan sampai akhirnya proses syuting dimulai. Info lebih lengkap soal teknis sinematografi Birdman yang luar biasa cantik itu bisa anda baca lebih detail di sini.

Birdman sendiri bercerita tentang seorang aktor senior bernama Riggan (Michael Keaton) yang sedang dalam tahap produksi drama panggung Broadway di New York. Tapi selama proses produksi, Riggan harus mendengar banyak suara-suara negatif dari luar khususnya para kritikus yang sudah mencemooh Riggan karena berusaha comeback dengan karya drama panggung Broadway yang ‘sok nyeni’, secara Riggan sendiri adalah mantan aktor film adaptasi komik ternama Birdman tahun 90-an. Belum lagi Riggan harus berhadapan dengan para aktor dan aktris muda yang sulit diatur seperti Mike (Edward Norton) yang entah kenapa selalu meremehkan Riggan. Lalu apakah panggung Broadway adalah waktu yang tepat untuk Riggan comeback dan menjadi legenda sehingga orang mengakui kalau dirinya adalah aktor berkelas?

BirdmanEksistensi dan ego dalam diri seorang pelaku seni memang sulit untuk dipisahkan, secara tidak langsung Birdman—yang entah kenapa bagi saya skripnya memang seperti ditulis khusus untuk Michael Keaton—membuktikan bahwa dunia show biz di ‘Murica sana memang tidak kenal ampun. Di satu waktu seorang bintang bisa saja sukses tanpa batas, tapi di waktu yang lain, kesuksesan kadang hanya bersifat sementara dan sang bintang bisa saja tenggelam dalam kesuksesannya sendiri. Lebih dari itu, Birdman seperti ‘menyindir’ kebanyakan aktor yang memang terjun dan besar di film-film franchise (khususnya film superhero) dan memang hanya bisa di ranah film seperti itu tanpa mau mengeksplor skill aktingnya keluar dari zona nyaman.

Seperti yang kita tahu, Michael Keaton adalah pemeran Batman-nya Tim Burton tahun 90-an, dan setelah ia berhenti memerankan Batman, Michael Keaton seperti hilang ditelan bumi, dan harus saya akui, comebacknya walau bukan dengan drama panggung Broadway, lewat Birdman, Michael Keaton membuktikan bahwa dirinya masih mempunyai kekuatan akting yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Secara garis besar, selain Edward Norton yang luar biasa mencuri perhatian dan Emma Stone yang menjadi pemanis, Michael Keaton tetaplah ‘man of the show’ dari ‘drama panggung’ Birdman ala Alejandro González Iñárritu. Penampilannya sebagai aktor senior yang berusaha mati-matian mencari eksistensi di era serba modern dan terbuka saat ini cukup emosional dan membuat saya bersimpati pada karakter Riggan, tidak heran Michael Keaton mendapatkan piala Golden Globes untuk akting menawannya di Birdman, dan mungkin saja nominasi Best Actor bisa disabet juga nanti di Academy Awards, aktingnya memang brilian dan sangat thoughtful. Kudos!

Lalu apakah Birdman dengan teknik sinematografi ciamiknya dapat dikatakan film yang ‘style over substance’? Dimana beberapa orang menganggap, teknik one long take-nya tidak menambah nilai bagi cerita filmnya sendiri. Bagi saya pribadi, Birdman tetaplah sebuah pencapaian luar biasa dari segi teknis maupun segi cerita, dengan adanya teknik sinematografi one long take, tidak menjadikan hal tersebut ‘gimmick’ semata, tapi juga memperkuat kisah dibalik cerita tentang orang-orang yang bekerja di panggung drama broadway yang terus bekerja tanpa ada cut scene sama sekali setiap drama sudah dimulai di panggung. Dengan kata lain, ‘style equal substance’, Birdman punya cerita yang bagus dan teknik visual yang bagus dan juga mungkin menggoyahkan iman saya yang sudah lama mendukung The Grand Budapest Hotel untuk menyabet penghargaan Original Screenplay, ha-ha. We’ll see, yang jelas Boyhood dan Birdman akan bersaing sengit untuk membuktikan siapa yang pantas mendapat gelar film terbaik tahun kemarin.

Rating: 5/5

9 thoughts on “Birdman (2014/US)

    • Antonio Sanchez tuh yg bikin scoring full drumnya, sayang gak masuk nominasi oscar soalnya juri oscar gak nganggep itu scoring film yang sesuai kalo cuma dibuat sama satu instrumen, hehe.

      Soal cerita sih buat gw pribadi Birdman dan Whiplash sama sama bagus, BIrdman lebih ngena karena ngomongin eksistensi sih dan itu hal yang sangat kerasa banget jangankan di usia si Michael Keaton, usia menjelang 30 aja udah kerasa gimana susahnya mempertahankan eksistensi, hahaha…

      Like

  1. Pingback: The Theory of Everything (2014/UK) | zerosumo

  2. Ahh… Suka banget ama ini film… Salah satu film yg masuk dalam list film favorit saya..

    Sempet bingung ama endingnya, tapi akhirnya nonton untuk kesekian kalinya dan akhirnya nyampe pada satu conclusion, it’s up to our perspective!
    Clearly, film ini sangat jelas nyeritain kondisi Riggan yang delusional (contoh: adegan dimana dia terbang padahal sebenarnya dia naik taksi!)

    Balik lagi tergantung dari perspektif para penonton, apa kita mau melihat endingnya dari perspektif delusional-nya Riggan atau perspektif orang normal.. Yaitu ia bunuh diri kalo menurut saya.
    Poor thing….

    Like

    • Endingnya emang di drive buat menuju ke arah bunuh diri kok, dan saya juga lebih suka gitu, inget kan cerita dia yg naek pesawat bareng george clooney trus kalo pesawatnya meledak yg bakal ada di halaman pertama koran itu mukanya si clooney. Ya kira2 itulah yg pengen di achieve si riggan, jadi legenda sebelum pudar, hahaha.

      Like

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s