Foxcatcher (2014/US)


FOXCATCHERZerosumo.netFoxcatcher merupakan film yang masuk lima nominasi bergengsi di ajang Academy Awards kemarin, tapi sayang film arahan Bennett Miller ini pulang dengan tangan hampa, padahal kalau dipikir-pikir, Foxcatcher ini filmnya cukup ‘Oscar bait’ sekali, berdasarkan kisah nyata tahun 80-an tentang dua pegulat ‘Murica yang bertanding dibawah kepemimpinan seorang milyuner ‘Murica pada jamannya. Jangan lupakan penampilan Steve Carrell yang biasa kita saksikan kebodohannya dalam film-film komedi, di Foxcatcher komedian tersebut bertransformasi menjadi seorang milyuner paranoid yang tidak bisa ditebak.

Foxcatcher menceritakan seorang pegulat bernama Mark Schultz (Channing Tatum) yang merupakan pegulat yang pernah memenangkan medali emas di Olimpiade tahun 84. Tapi kehidupan seorang atlet di ‘Murica sana nampaknya tidak jauh beda dengan di Indonesia, walau sudah menang medali emas, hidup para atlet tetaplah melarat. Maka ketika seorang milyuner bernama John du Pont (Steve Carell) memanggil Mark untuk berlatih di bawah bendera tim Foxcatcher miliknya, Mark langsung mengiyakan ajakan tersebut serta mengajak sang kakak, Dave (Mark Ruffalo) untuk ikut berlatih demi memenangkan kejuaraan gulat internasional di Seoul. Tapi setelah Mark berlatih dan tinggal di kediaman John du Pont, muncul banyak ‘drama’ dan juga gaya hidup eksentrik John du Pont yang mempengaruhi keadaan psikologis Mark.

FOXCATCHERBennett Miller saya kenal lewat film Moneyball beberapa tahun lalu yang sama-sama masuk nominasi Oscar, sebelumnya juga dia pernah membidani film Capote yang dibintangi almarhum Philip Seymour Hoffman. Kehadirannya lewat Foxcatcher cukup intriguing bagi saya pribadi karena banyak faktor, diantaranya Steve Carrell yang memerankan karakter yang bertolak belakang dengan kebiasaannya memerankan karakter komikal selama ini dan juga penampilan Channing Tatum yang cukup impresif, lebih impresif dan lebih bagus daripada perannya di Magic Mike ataupun Jupiter Ascending itu, ha-ha. Tapi mungkin dengan alurnya yang cukup lambat dan juga klimaksnya yang memang cukup shocking tapi kurang kuat motifnya membuat Foxcatcher ‘agak’ biasa saja dibanding kontender lainnya di ajang Academy Awards kemarin.

FOXCATCHERHarus diakui, Bennett Miller sukses menangkap gambaran situasi pada masa itu, tahun 80-an yang serba grainy dan juga kehidupan para atlet gulat yang memang tidak sekaya para atlet yang bertanding di cabang olahraga bergengsi. Mark sebagai pegulat sukses yang mendambakan kejayaan dan apresiasi dari orang sekitar diperlihatkan sebagai seorang pria yang memang fokus dan tidak peduli dengan keadaan sekitar sampai akhirnya John du Pont datang dan memberikan banyak ‘doktrin antik’ yang membuat semua hal berubah begitu saja. Beberapa orang melihat Foxcatcher adalah perwujudan dari bentuk maskulinitas kaum pria yang diwakili oleh para pegulat dan sangat diinginkan sebenarnya pada masa itu. John du Pont yang selalu berada di bawah bayang-bayang ibunya tahu betul hal tersebut dan ingin merubah paradigma ibunya yang berpikir bahwa olahraga gulat itu adalah olahraga untuk kaum rendahan dan tidak terhormat. Sayang obsesi John du Pont terlalu berlebihan dan mempengaruhi banyak aspek termasuk psikologis seorang Mark Schultz yang memang sedang dalam usia pencarian jati diri.

FOXCATCHER

Steve Carrell and the real John du Pont

Cerita Foxcatcher memang solid dan memperlihatkan betul tangan dingin seorang Bennett Miller dalam membuat suatu karya kelam dan detail. Tapi entah kenapa dengan plotnya yang sangat lambat dan klimaksnya—yang menurut saya bisa menimbulkan banyak pertanyaan untuk orang yang tidak terbiasa menonton film semacam ini—tidak terlalu spesial bagi saya pribadi. Intrik di dalamnya sangat minim walau memang sekalinya ada konflik, sangat terasa sekali, seperti adegan dimana Mark menghantamkan kepala ke cermin berkali-kali, adegan yang cukup membuat saya ‘terbangun’ sesaat, tapi sisanya tidak sebegitu intensnya, malahan alur penceritaan Moneyball lebih enak dan lebih cocok buat saya dibanding Foxcatcher. Tapi bukan berarti film ini tidak bagus juga, dalam beberapa aspek, Foxcatcher cukup outstanding, sinematografinya oke, dan jangan lupakan make up John du Pont yang mengaharuskan Steve Carrell memakai hidung prostetik, semua itu menjadi nilai lebih tersendiri bagi film yang durasinya hampir dua setengah jam ini. At least, saya tetap bisa menikmati Foxcatcher walau tidak terlalu sememorable film-film nominasi Oscar lainnya, yang jelas film ini bukan untuk semua orang. Try it for yourselves, and enjoy!

Rating: 3/5

2 thoughts on “Foxcatcher (2014/US)

  1. Ah ya, filmnya memang agak membosankan. Tapi kebanyakan film nominasi Oscar juga begitu..😀

    Namun memang motivasi John Du Pont di akhir memang tidak terjawab dengan gamblang, karena sekiranya seperti itulah yang memang benar2 terjadi di dunia nyata. Kita tidak pernah tahu pasti. And I’m really frustrated! Haha..

    Like

    • Motivasi si du pont ya kayak kita yang nonton pelmnya, frustrated! hahaha. tapi itu emang sebenernya tanpa dijelasin juga sih kita bisa nangkep sebenernya kalo du pont emang jealous sama dave karena pada akhirnya si mark bisa balik lagi ke si dave. Build up si foxcatcher ini emang lambreta sih, tipikal film oscar bangetlah. hehe.

      Like

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s