Report from “Redial” Screening (2015)


REDIAL POSTER“One call is never enough”

Gak kerasa udah tahun 2015 aja dan sekarang saya mau berbagi cerita tentang screening film pendek terbaru saya yang berjudul Redial. Secara historis, Redial adalah film pendek ketiga dari 3 a.m. pictures, sebuah production house suka-suka yang pertama kali dicetuskan oleh saya dan partner saya, Myrdal ketika mau membuat film The Flutist, film dokumenter pertama kami yang rilis tahun 2010 silam. Awalnya namanya masih 2 a.m. pictures, tapi ketika tahun 2012, saya dan Myrdal mengajak Artlen, untuk menggarap film pendek fiksi pertama kita yang berjudul Pertama Kali. Kalian bisa saksikan film pendek Pertama Kali di SINI. Maka setelah itu, production house suka-suka ini berubah nama menjadi 3 a.m. pictures sampai sekarang.

Lalu bagaimana sampai akhirnya film pendek Redial terealisasi? Semua berawal dari ide cerita teman saya yang bernama Rizky Mamat. Doski merupakan teman saya di komunitas Moviegoers Bandung, orangnya suka ngelucu dan ngegaring dan kadang mempunyai ide-ide liar, salah satunya ide cerita film Redial yang awalnya berjudul ‘Hung’. Awalnya cerita Hung milik Mamat ini sangat surreal karena ia ingin menganalogikan bagaimana hubungan sepasang kekasih lewat telepon kadang bisa mematikan bagi salah satu pihak, sekaligus curhatan mungkin yah karena kalau cewek debat di telepon itu suka tidak mau ngalah dan Mamat menggambarkan situasi tersebut dengan cukup ‘liar’ dan ia berencana untuk membuat film pendek berdasarkan cerita tersebut.

Setelah sekian lama ide tersebut mengawang-ngawang tanpa ada realisasi, saya pun menawarkan pada Mamat untuk mengerjakan cerita Hung ini menjadi sebuah film pendek, tapi tentu saja dengan beberapa penyesuaian lagi dalam naskahnya supaya tidak terlalu surreal dan masih ada di ranah realism. Intinya supaya orang yang menonton tidak menuduh cerita film ini terlalu sok-sok ‘artsy’ karena jujur saya juga tidak tahu betul bagaimana kriteria film-film ‘artsy’ seperti yang orang bicarakan. Setelah saya merevisi naskahnya, saya pun kembali mengajak Artlen dan Myrdal untuk merealisasikan film ini. Tapi karena Myrdal sekarang sedang sibuk kuliah perfilman juga di IKJ, maka sekarang saya yang mengambil alih posisi sutradara untuk film Redial, sementara Myrdal tetap terlibat ketika paska produksi sebagai editor.

Pra produksi pun berjalan dan bagi saya merupakan salah satu tahapan produksi film yang paling mengasyikan dan menantang, beruntung saya bertemu dengan seorang teman yang masih sama-sama dari komunitas Moviegoers Bandung juga, namanya Mutia. Wanita penggemar Arctic Monkeys yang saat itu masih berstatus mahasiswa Fikom Unpad memang mempunyai ketertarikan yang amat sangat mendalam pada film, dan ia pun pernah mengerjakan beberapa film pendek bersama anak-anak Cinema Club Fikom Unpad. Jadi dapat dikatakan pertemuan saya dengan Mutia membuahkan hasil yang cukup banyak karena setelah itu, Mutia mengajak beberapa teman dari Cinema Club Fikom Unpad untuk membantu saya mengerjakan produksi film ini. Selain itu, Mutia juga mengenalkan saya pada Annisaa yang menjadi salah satu karakter utama di film Redial.

Saya pun mencoba mengajak Jerry yang merupakan alumnus salah satu figuran di film Pertama Kali untuk menjadi pemeran utama di film Redial. Setelah Jerry dan Annisaa setuju saya pun mulai bersemangat, apalagi setelah melihat Jerry dan Annisaa nampaknya mudah sekali menemukan kecocokan ketika reading naskah Redial, saya pun percaya bahwa dua karakter utama di film Redial dapat direpresentasikan dengan sangat baik oleh mereka berdua, and it works! Sama halnya dengan para insan di belakang layar, kehadiran Arief, Fisti, Rasyid, Razni, Rizka, Kinan dan Sonny sangat membantu saya ketika proses produksi dimulai, belum lagi dengan dua kru andalan yang serba bisa, Dika dan Ezy serta Chandra dan Acid yang membantu delivery konsumsi untuk para kru dan talent ketika proses produksi berjalan, kehadiran mereka semua sangat membantu tim produksi film Redial yang memang tidak berbujet spektakuler layaknya film-film lain.

Redial pun bisa terealisasi karena teman saya, Dio meminjamkan rumah neneknya yang kosong untuk menjadi setting film, bantuan yang tidak ternilai harganya. Tidak lupa rekan saya Eko yang merupakan seorang fotografer handal juga ikut membantu dalam proses pra produksi soal tata cahaya dan tetek bengek teknis lainnya yang memang sangat krusial. Selain itu, doski juga menawarkan bantuan untuk make up artist yang berasal dari tiga mahasiswinya sendiri, their help was so precious! Untuk masalah teknis lainnya pun saya dibantu oleh Anto yang mengajarkan sedikit cara tentang pertalian dan simpul-simpulnya, saya ucapkan banyak terima kasih juga pada ayah Mutia yang membantu membuatkan properti minimalis seperti perkayuan dll dan Denny yang menyumbangkan lagunya untuk menjadi scoring film Redial. Intinya, kehadiran banyak teman yang mau membantu produksi film Redial secara sukarela sudah tidak terhitung lagi jasanya, semua bantuan mereka tidak dapat dihitung dengan uang dan saya bersyukur sekali film Redial ini bisa terealisasi dengan kerja sama dan gotong royong seperti yang kita lakukan saat itu.

Screening Redial

Now showing!

The show goes on!

Akhirnya Redial rilis, proses pra produksi sampai paska produksi mungkin memakan waktu sekitar lima bulan kurang lebih, kalau tidak salah kita mulai syuting itu di bulan Oktober 2014 dan proses editing sendiri setelah melewati banyak tahapan baru bisa beres kira-kira bulan Februari awal dan itupun belum sempurna sepenuhnya karena ketika screening kemarin di tanggal 15 Februari 2015 masih banyak masukan dari para penonton soal teknis audio, karena ketika proses editing, kalau boleh jujur, bagian audio itu adalah bagian yang paling bikin saya pusing tujuh keliling. Tapi thanks atas masukan dan kritik para penonton yang hadir di acara screening kemarin, dengan banyaknya feedback saya jadi bisa belajar lagi untuk melakukan yang lebih baik kalau suatu saat saya masih diberi kesempatan untuk menggarap film pendek lainnya.

Screening RedialScreening RedialScreening RedialScreening RedialSelain Redial, acara screening kemarin pun diramaikan oleh film teman-teman saya tentunya, ada film terbaru Myrdal yang sudah cukup lama bertapa di IKJ, he-he. Kemudian ada film teman saya dari komunitas Moviegoers Indonesia, Witra yang bela-belain datang ke Bandung sendirian demi bisa meramaikan acara screening sederhana ini, thanks a lot bro! FYI, Myrdal sendiri sudah menggarap cukup banyak film di IKJ dan beberapa filmnya sudah pernah mendapatkan penghargaan di beberapa festival, sama halnya dengan Witra yang pernah membesut satu segmen film omnibus 3SUM. Kehadiran mereka semua tentunya memberi warna dan juga banyak sekali feedback soal filmmaking yang bisa jadi bekal berharga tentunya untuk saya dan juga semua yang hadir pada saat screening kemarin.

Screening Redial

Myrdal

Screening Redial

Witra

Screening Redial

Mamat

Screening Redial

Jerry & Annisaa

Beda dengan film pendek Pertama Kali yang kita adakan screeningnya di sebuah kafe, kali ini saya mengadakan screening di sebuah studio karaoke mini milik temannya Artlen, saya ingin penonton lebih fokus untuk menonton film-film yang diputar, dan tempat screening ‘dadakan’ yang bernama Karaoke Shop itu pun berhasil menjadi medium paling oke menurut saya dan juga teman-teman yang hadir pada saat screening. Walaupun kita nontonnya lesehan, tapi ruangannya luas, kedap suara dan sound systemnya pun mumpuni. Itulah pengalaman yang sebenarnya saya inginkan ketika screening sebuah film, karena ketika screening film Pertama Kali dua tahun yang lalu, atmosfir seperti itu sulit didapatkan, apalagi notabene tempatnya adalah sebuah kafe yang banyak orang lalu lalang, sehingga kadang penonton tidak bisa fokus pada apa yang terjadi di dalam film.

Screening Redial

(Almost) all the cast and the crew

Screening RedialScreening RedialScreening RedialScreening RedialAkhir kata, terima kasih banyak pada semua pihak yang telah membantu dari mulai pra produksi sampai paska produksi sampai akhirnya bisa dipertontonkan di depan orang-orang (walau tidak banyak juga, he-he). Secepatnya film Redial akan saya upload di Youtube, karena saya juga ingin tahu feedback dari teman-teman lain yang mungkin tidak sempat menonton film ini ketika screening kecil-kecilan kemarin. Sekali lagi, thanks a lot for all of you who make this short film happens. See you next time.

Screening Redial

Ki-Ka: Nightmare, Redial, Welcome.

5 thoughts on “Report from “Redial” Screening (2015)

  1. Pingback: “Redial” Now Showing! | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s