Before Sunrise (1995) & Before Sunset (2004): Revisiting the Romance


So how we ended like this?

Love letter of a decade

Tahukah anda tahun ini adalah tahun 2013? (ya iyalah) Ada yang menarik di dunia perfilman tahun ini selain banyaknya film-film box office keren yang bergenre superhero dan sci-fi. Tahun ini adalah tahun rilisnya film drama cinta romantis yang hanya rilis sembilan tahun sekali. Ya, kalau anda pecinta film yang mempunyai judul berawalan “before” pasti anda tahu film apa yang saya maksud, Before Midnight. Sembilan tahun setelah pertemuan Jesse dan Celine di Paris akan diteruskan lagi di Before Midnight, masih dengan orang-orang yang sama tentunya, tapi saya sekarang bukan ingin membicarakan film Before Midnight karena saya sendiri juga belum menonton film yang rilis di ajang Sundance kemarin ini.

Saya hanya ingin mengajak anda untuk menengok kembali dua film sebelumnya sebagai persiapan untuk menyambut Before Midnight yang katanya masih sekitar akhir tahun rilisnya (disini), well it’s suck for waiting, but no problem, right? Sedikit cerita konyol, saya pertama mengikuti film paling romantis Richard Linklater ini justru lewat Before Sunset terlebih dahulu, karena merasa tidak nyambung, saya menonton Before Sunrise kemudian, dan alhasil saya jatuh cinta pada dua film ini, dan sangat tidak menyangka bahwa film ini benar-benar menjadi proyek hidup dari Richard Linklater yang diteruskan setiap sembilan tahun sekali sesuai dengan timeline di filmnya juga, wow!

Dua film romansa yang dibintangi Ethan Hawke dan Julie Delpy ini secara tidak langsung menjadi inspirasi saya untuk menulis naskah film pendek pertama saya yang berjudul Pertama Kali. Walau tidak terlalu sempurna dan tidak sedikitpun mendekati chemistry Jesse dan Celine (ha-ha), tapi Before Sunrise dan Before Sunset benar-benar menginspirasi saya. Cerita konyol lainnya adalah saya pernah menonton penuh Before Sunset ketika saya sedang latihan treadmill, dan saya tidak sadar kalau saya sudah berjalan di treadmill selama 80 menit! Ya, saya menghabiskan waktu di gym hanya untuk berjalan di treadmill selama 80 menit gara-gara tanpa sengaja televisi di depan treadmill saya sedang memutar film yang rilis tahun 2004 tersebut! Awkward, ha-ha.

So, apa saja momen-momen manis yang saya sukai dan saya temukan ketika menonton dua film romansa yang menghabiskan waktu sepanjang hari hanya berjalan-jalan memutari kota Vienna dan Paris ini? let’s find out!

The backstory

Before Sunrise terinspirasi dari pengalaman pribadi Richard Linklater, yaitu ketika ia bertemu seorang gadis bernama Amy, dan menghabiskan waktu bersamanya hanya dengan mengobrol sambil berjalan mengelilingi Philadelphia. Naasnya adalah, sutradara yang sering menjadikan Jack Black aktor langganannya ini, putus kontak dengan Amy setelah beberapa lama dan baru mengetahui bertahun-tahun setelah Before Sunrise rilis bahwa Amy meninggal dunia karena kecelakaan. Ini momen yang memang paling menyedihkan mungkin bagi saya, maka tidak heran rilisnya Before Midnight tahun ini di dedikasikan untuk Amy seorang, yang telah membuat Richard Linklater mengalami apa itu yang namanya ‘magical moment’ seperti yang dialami oleh Jesse dan Celine di Vienna. Sebuah surat cinta yang paling manis yang pernah saya tahu. I feel you bro!

Selain pertemuannya dengan Amy, Richard Linklater juga banyak memasukan referensi dari novel karya James Joyce yang berjudul ‘Ulysses’. Bahkan nama Jesse pun aslinya adalah James, yang diambil dari nama James Joyce itu sendiri, tapi uniknya adalah ketika nama Jesse digabungkan dengan James, Jesse James, koboi yang ditembak dari belakang oleh rekannya sendiri, tersirat jelas di Before Sunrise ketika Celine mengatakan hal tersebut kepada Jesse.

The city

Vienna dan Paris, jika dilihat dari beragamnya destinasi yang dituju Jesse dan Celine ketika jalan-jalan di kota yang mereka sambangi, Vienna lebih beragam. Karena di kota itu dua-duanya merasa seperti turis (dan merasa seperti dunia ini milik berdua), dan banyak sekali tempat-tempat keren dari mulai kuburan tanpa nama hingga klub malam sampai taman-taman asri. Dan gilanya adalah, kalau anda ingat pertama kali Jesse dan Celine menginjakkan kaki di Vienna, mereka bertemu dua orang yang merekomendasikan agar Jesse dan Celine menghadiri pertunjukan mereka malamnya kalau memang tidak ada tempat yang dituju, tapi Richard Linklater tidak membuat sepasang muda mudi ini pergi kesana! Ya, hal itulah yang membuat film ini keren, saya hampir lupa kalau ada undangan dari dua orang tersebut di siangnya, tapi karena terhipnotis dengan alur cerita Jesse dan Celine, saya baru menyadari hal tersebut di akhir-akhir film ini. Lebih kerennya adalah ketika Jesse dan Celine menyadari sendiri bahwa mereka tidak datang ke pertunjukan dua orang tersebut, serasa membangunkan penonton atau memberi tahu penonton, “apakah kalian sadar atau tidak?”

Sedangkan Paris benar-benar sederhana, pertemuan Jesse dan Celine disana hanya untuk menuju pulang, jadi tidak terlalu banyak setting yang dipakai selain kafe, trotoar dan akhirnya kapal feri kecil yang mengitari sungai, hingga akhirnya tiba di apartemen milik Celine. Before Sunset bukan ingin menunjukan pengalaman ‘magis’ yang pernah mereka alami ketika di Vienna, tapi sedikit ingin menegaskan realitas dari pengalaman ‘magis’ yang pernah mereka rasakan sembilan tahun yang lalu, and it’s work, it’s not about people wandering a city with a romanticism, it’s about life after that romanticism part.

The plot

Maka inilah penilaian akhir saya, dua film yang mempunyai rentang waktu selama sembilan tahun yang ternyata menunjukan banyak perubahan di dalamnya. Naskah cerita yang ditulis oleh Richard Linklater dan Kim Krizan ini menunjukan sebuah kedewasaan yang natural seiring perkembangan usia dua karakter ini. Bahkan di Before Sunset, Ethan Hawke dan Julie Delpy juga ikut ambil bagian di penulisan naskah. Tak aneh kisah cinta dua manusia ini terasa sekali intimnya, bahkan seperti pasangan yang bisa kita temui di kehidupan sehari-hari.

Jika Before Sunrise penuh dengan romansa anak muda yang mendayu-dayu, polos, konyol dan penuh emosi sesaat yang kadang tidak jelas (serta nafsu sesaat yang sangat jelas juga), maka Before Sunset adalah penegasan dari sembilan tahun yang lalu, apakah mereka serius pernah mengalami hal seromantis itu di Vienna? Sekaligus sebuah tamparan ke karakternya masing-masing, bahwa selepas pertemuan mereka di Vienna, Jesse dan Celine tak ubahnya seorang manusia biasa yang jalan hidupnya tidak seromantis dongeng. Terlihat jelas dari percakapan pertama mereka di Before Sunset yang sudah sangat jauh dari kata romantisme, dimana Celine lebih banyak mengangkat topik kemanusiaan sedangkan Jesse hanya berusaha untuk memahami dan menyadari bahwa bukan ia saja yang sudah berubah, ternyata selain fakta bahwa pernikahan yang dialami oleh Jesse ada di ambang kehancuran, Celine pun merasa tidak seromantis dulu ketika ia pertama kali bertemu Jesse di Vienna.

Kepolosan dan keluguan Celine di Before Sunset tidak begitu diperlihatkan lagi seperti yang pernah ada di Before Sunrise, tapi kekonyolan dan gaya blak-blakan Celine masih sangat khas, walau sudah tidak se-chuby dulu lagi (saya lebih suka Celine versi chubby!) Celine tetap loveable, hanya saja ia tumbuh menjadi wanita yang penuh dengan pertanyaan dan pemikiran layaknya wanita pada umumnya. Sementara Jesse seperti biasa tampil kalem di Before Sunset walau tahu sebenarnya ia menyimpan banyak masalah seperti pernikahannya ataupun mantan pacarnya ketika di Before Sunrise. Tapi jauh di dalam, mereka adalah orang yang sama, yang sadar bahwa sebenarnya selama sembilan tahun ini seharusnya mereka ditakdirkan hidup bersama, yang menjadi spoiler juga ke film selanjutnya, Before Midnight, dimana Jesse dan Celine akhirnya menikah, betulkah? Tapi melihat ending Before Sunset, saya tahu mereka pasti akhirnya akan bersama, seperti dua kata terakhir yang diucapkan oleh Jesse sebelum credit title berputar di ending Before Sunset, I know!

So here we are

Makin tidak sabar? Sama! Saya juga makin tidak sabar, apakah Before Midnight akan menjadi penutup sebuah film yang mempunyai cerita cinta yang paling membumi dan realistis di dunia ini? Apalagi setting film ketiga kolaborasi Richard Linklater, Ethan Hawke dan Julie Delpy ini akan mengambil setting di Yunani, apalagi yang akan mereka bicarakan selain cinta dan kemanusiaan seiring pertambahan usia dan kematangan mereka dalam memandang hidup? Yang jelas, duduk santai dan tunggu saja tanggal mainnya (atau tunggu saja tanggal bajakannya keluar kalau tidak diputar di bioskop Indonesia). See you soon Jesse and Celine!

6 thoughts on “Before Sunrise (1995) & Before Sunset (2004): Revisiting the Romance

  1. Pingback: Before Midnight (2013/US) | zerosumo

  2. Pingback: Trilogi “before” | ANYWAY

  3. Pingback: Boyhood (2014/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s