Clouds of Sils Maria (2014/France)


clouds of sils mariaZerosumo.net – Tahun 2014 hampir berakhir, mari kita berkenalan dulu dengan salah satu kontestan Cannes Film Festival tahun ini, yaitu Clouds of Sils Maria yang masuk nominasi Palme d’Or Cannes Film Festival tahun 2014. Film ini adalah film Perancis yang diarahkan oleh sutradara Olivier Assayas, salah satu sutradara kenamaan di negeri fashion tersebut. Clouds of Sils Maria sendiri mengikutsertakan dua bintang muda Hollywood yang sedang naik daun untuk ikut berpartisipasi di dalamnya, yaitu Kristen Stewart dan Chloë Grace Moretz dan jujur saja, itulah yang membuat saya ingin mencicipi film drama tentang eksistensi seorang artis yang sudah tidak muda lagi itu.

Alkisah, seorang artis senior bernama Maria Enders (Juliette Binoche) baru saja mengalami masa-masa kelam di karirnya, sedang menghadapai perceraian dan sutradara yang juga sahabat baiknya baru saja meninggal dunia. Tidak lama setelah berita meninggalnya sang sutradara, Maria diajak untuk bermain dalam sebuah drama panggung karya sang sutradara tersebut yang telah melejitkan namanya 20 puluh tahun yang lalu. Bedanya, kalau dulu Maria memerankan karakter Sigrid di drama panggung tersebut, sekarang ia memerankan karakter Helena, atasan Sigrid yang pada akhirnya bunuh diri.

clouds of sils mariaDemi memerankan karakter tersebut, Maria tinggal di sebuah rumah di pegunungan terpencil Alpen yang terkenal dengan awan-awan rendah yang melintasi sungai Maloja. Maria tidak sendiri, ia ditemani asisten pribadinya yang juga partner latihannya, yaitu Valentine (Kristen Stewart). Tapi seiring waktu berjalan Maria melihat karakter yang ia mainkan makin terlihat seperti dirinya yang sudah beranjak tua. Selain itu Maria juga merasa penasaran dengan pemeran karakter Sigrid yang dulu ia perankan, yaitu Jo-Ann Ellis (Chloë Grace Moretz), artis muda yang sedang naik daun karena banyak terlibat skandal di dunia maya. Long story short, Clouds of Sils Maria memperlihatkan bagaimana seorang artis senior melihat dirinya di jaman serba modern ini apalagi ketika ia harus menunjukan eksistensinya di hadapan artis muda pendatang baru yang lebih orang suka daripada dirinya 20 tahun yang lalu.

clouds of sils mariaAt least itulah gambaran umum yang saya tangkap ketika menonton film ini di Festival Sinema Perancis yang sedang berjalan minggu ini di beberapa kota besar di Indonesia termasuk Bandung. Sayangnya saya menonton film ini kemarin tanpa subtitle sama sekali, jadi saya tidak bisa meng-grasp keseluruhan plot film berdurasi 120 menitan ini dengan lebih detail. Andai saja panitia Festival Sinema Perancis lebih mengerti kapasitas para penonton amatir seperti saya yang masih membutuhkan subtitle, setidaknya subtitle bahasa Inggris sudah lebih dari cukup untuk memahami filmnya, pasti saya akan lebih nyaman menontonnya. Padahal Clouds of Sils Maria adalah tipikal film drama dengan alur lambat yang plot ceritanya banyak menekankan di dialog antar karakternya. Ketika karakter non-Amerika berbicara bahasa Inggris sih saya masih bisa menangkap sedikit-sedikit, tapi ketika karakter Amerika sudah mulai berdialog, mulailah kepala ini pusing, ha-ha.

clouds of sils mariaYa, andai saja saya menonton film ini dengan subtitle bahasa Inggris setidaknya, saya mungkin bisa lebih relate dengan kegundahan seorang Maria Enders dan juga kegelisahan asistennya Valentine yang yang saya masih ‘gagal paham’ kenapa ia bisa sampai stres dan menghilang begitu saja dari hadapan Maria, apa karena Maria terlalu berekspektasi tinggi ketika meminta Valentine menjadi partner latihan dramanya? Padahal kan hanya latihan semata, tapi kenapa Valentine menjadi tidak nyaman seiring waktu berjalan, secara saya lihat dua karakter ini nampak ‘nyambung’ satu sama lain dari menit awal film berjalan tapi akhirnya hubungan profesional dan pribadi mereka berakhir tepat ketika event Maloja Snake akan dimulai, event dimana awan-awan yang melintasi sungai Maloja yang saya sebutkan sebelumnya itu lho, sungguh sebuah ironi.

clouds of sils mariaWalaupun begitu, layaknya film-film tipikal festival bergengsi di Eropa, Clouds of Sils Maria tetaplah sebuah film drama yang watchable dan juga tidak banyak menyimpan pesan-pesan filosofis tingkat tinggi. Tapi tetap, Clouds of Sils Maria mungkin cocok untuk orang lain tapi tidak untuk saya, apalagi dengan kondisi menonton seperti kemarin, tolong dong subtitlenya, bukannya saya tidak mau belajar bahasa Inggris, tapi skill hearing saya masih belum sempurna, ha-ha. Ya setidaknya film ini memperlihatkan sisi lain Kristen Stewart yang sekarang nampaknya sudah mulai tumbuh dewasa tapi untuk soal aktingnya saya pikir masih terbilang standar saja, sama halnya dengan Chloë Grace Moretz yang katanya bakal jadi ‘rival’ menarik untuk Juliette Binoche, tapi nyatanya mereka hanya berbagi layar tidak lebih dari 15 menit. Well, mungkin ‘rivalry’ disini hanya diperlihatkan secara tersirat, mostly oleh karakter Maria Enders yang mengamati Jo-Ann Ellis hanya lewat iPad-nya yang hebatnya selalu mendapat sinyal internet kencang walau mereka sedang ada di pegunungan terpencil sekalipun, ha-ha.

Akhir kata mohon maaf kalau film ini kurang ‘masuk’ untuk saya pribadi, jadi untuk para film snob disana jangan murka, saya menilai Clouds of Sils Maria tetaplah film yang layak untuk ditonton, tapi bukan untuk penonton seperti saya. Not really my cup of tea, especially when watching it without subtitle, he-he. Semoga Festival Sinema Perancis tahun depan lebih mengerti dengan masalah yang terlihat sepele tapi sebenarnya krusial ini.

Rating: 2.75/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s